Kamis, 13 Oktober 2011

Tugas dan Kedudukan Manusia

Diposkan oleh Reni Ariningsih di 20.28
Reaksi: 


Manusia diturunkan ke dunia ini bukannya tanpa peran. Manusia sesungguhnya
mempunyai kedudukan dan tugas yang telah melekat padanya, yang terbawa sejak dia
dilahirkan di muka bumi ini.

Kedudukan manusia yang pertama adalah sebagai Abdullah, yang artinya adalah
sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah maka manusia harus menuruti kemauan
Allah, yang tidak boleh membangkang pada-Nya. Jika kita membangkang maka kita
akan terkena konsekwensi yang sangat berat. Kita adalah budak Allah, karenanya
setiap perilaku kita harus direstui oleh-Nya, harus menyenangkan-Nya, harus
mengagungkan-Nya. Kita ini memang budak dihadapan Allah, namun dengan inilah
kita menjadi mulia, kita menjadi mempunyai harga diri, kita menjadi mempunyai
jiwa, kita menjadi mempunyai hati, kita menjadi mempunyai harapan cerah yang
akan diberikan Tuhan kita, karena ketaatan kita itu.

Dengan kedudukan ini, maka Manusia mempunyai dua tugas, pertama, ia harus
beribadah kepada Allah baik dalam pengertian sempit maupun luas. Beribadah dalam
arti sempit artinya mengerjakan Ibadah secara ritual saja, seperti, Sholat,
puasa, haji, dan sebagainya. Sedangkan ibadah dalam arti luas adalah
melaksanakan semua aktifitas baik dalam hubungan dengan secara vertikal kepada
Allah SWT maupun bermuamalah dengan sesama manusia untuk memperoleh keridoan
Allah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan Hadist. Dan tentunya dari
makna ibadah dalam arti luas ini akan terpancarkan pribadi seorang muslim
sejati dimana seorang muslim yang mengerjakan kelima rukun Islam maka akan bisa
memberikan warna yang baik dalam bermuamalah dengan sesama manusia dan banyak
memberikan manfaat selama bermuamalah itu. Disamping itu segala aktifitas yang
kita lakukan baik itu aktifitas ibadah maupun aktifitas keseharian kita
dimanapun berada di rumah, di kampus di jalan dan dimanapun haruslah hanya
dengan niat yang baik dan lillahi ta'ala, tanpa ada motivasi lain selain ALLAH,
sebagai misal beribadah dan bersedekah hanya ingin dipuji oleh orang dengan
sebutan �galim dan dermawan�h; ingin mendapatkan pujian dari orang
lain; ingin mendapatkan kemudahan dan fasilitas dari atasan selama bekerja dan
studi dengan menghalalkan segala cara dan lain sebagainya. Sekali lagi jika
segala aktifitas bedasarkan niatnya karena Allah, dan dilakukan dengan peraturan
yang Allah turunkan maka hal ini disebut sebagai ibadah yang sesungguhnya. Di
dalam Adz Dzariyat 56: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk
beribadah kepada-Ku."


Kita beribadah kepada Allah bukan berarti Allah butuh kepada kita, Allah sama
sekali tidak membutuhkan kita. Bagi Allah walaupun semua orang di dunia ini
menyembah-Nya, melakukan sujud pada-Nya, taat pada-Nya, tidaklah hal tersebut
semakin menyebabkan meningkatnya kekuasaan Allah. Demikian juga sebaliknya jika
semua orang menentang Allah, maka hal ini tak akan mengurangi sedikitpun
kekuasaan Allah. Jadi sebenarnya yang membutuhkan Allah ini adalah kita, yang
tergantung kepada Allah ini adalah kita, yang seharusnya mengemis minta belas
kasihan Allah ini adalah kita. Yang seharusnya menjadi hamba yang baik ini
adalah kita. Allah memerintahkan supaya kita beribadah ini sebenarnya adalah
untuk kepentingan kita sendiri, sebagai tanda terimakasih kepada-Nya, atas
nikmat yang diberikan-Nya, agar kita menjadi orang yang bertaqwa, Allah SWT
berfirman: �gHai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa�h [2 : 21]

Dan satu hal penting yang harus dicatat adalah bahwa beribadah hanyalah kepada
Allah saja, menggantungkan hidup ini hanyalah kepada-Nya saja. Dunia ini adalah
instrumen semata, yang akan berperan sebagai bahan ujian dari-Nya. Karenanya,
dalam beribadah, janganlah menduakan Allah, karena hanya Allahlah satu-satunya
dzat yang harus kita sembah dan ibadahi.

Ingatkah kita akan apa yang wajib kita ucapkan minimal 17 kali sehari, dalam
shalat-shalat kita, Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, hanya kepada Allah lah
kami menyembah, dan hanya kepada Allah lah kami minta pertolongan. Tiada yang
lain. Karenanya, Allah tiada mengampuni jika kita mensekutukannya, menduakannya
dengan yang lain. Hanya berbuat karena Allah, dan hanya meminta
pertolongan kepada Allah lah yang membuat kita aman dari murkanya, dan akan
mendapatkan rahmat-Nya

Tugas kedua manusia adalah sebagai Kalifatullahi, kalifah Allah. Segala sesuatu
yang ada di dunia ini telah ditaklukkan Allah bagi manusia, Hewan, tumbuhan,
binatang, bumi dengan segala apa yang terpendam di dalamnya. Allah memberikan
gambaran tentang diberikannya tugas khalifah ketika berdialog dengan malaikat,
dalam Q.S 2:30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada
para Malaikat:'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi.' Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan
berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'

Jika tugas manusia adalah sebagai seorang pemimpin, tentu ia harus dapat
membangun dunia ini dengan sinergis, dapat melakukan perbaikan-perbaikan, baik
antara dirinya dengan alam, maupun antar sesama itu sendiri. Karakter sebagai
seorang pemimpin ini tidak dengan serta merta tumbuh dengan sendirinya, hal ini
harus dimulai dari tanggung jawab yang kecil mulai dari diri sendiri menuju
lingkup yang agak luas sebagai pemimpin rumah tanggga, kemudian menuju yang
lebih luas lagi pada sebuah komunitas masyarakat yang dipimpinnya, hingga
akhirnya menuju tanggung jawab dalam lingkup yang lebih luas lagi. Semestinya
kita melakukan instropeksi kedalam diri kita, apakah saat kita mendapatkan
tanggung jawab sebagai pimpinan apapun, kita telah menjalankan amanat yang
diberikan itu dengan sebaik-baiknya? Apakah jika kita tidak menjalankan setiap
amanat yang kita terima itu dengan baik kita bisa menyebut diri kita itu sebagai
kalifah? Tentunya tidak bukan. Oleh karena itu diri kita perlu selalu
diasah untuk lebih peka lagi, lebih peduli lagi terhadap lingkungan sekitar
kita dalam membantu sesama, bersinergi dalam segala aktifitas, peka dan ringan
tangan dalam membantu orang lain baik yang kita pimpin maupun saat kita berada
dalam posisi dipimpin oleh orang lain. Tanpa kepekaan dan pengasahan diri sejak
awal serta menggali pengalaman sebagai seorang pemimpin yang sesugguhnya maka
akan sangat jauhlah diri kita dengan sebutan �gKalifah di muka
bumi�h, ini seperti halnya �gsipunguk merindukan bulan�h,
tanpa berbuat sesuatu namun mengharapkan sesuatu yang besar.

Seorang pemimpin dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya, kemampuan untuk
mengolah dan mengeksplorasi alam, maka sebenarnya ia tak boleh semena-mena
terhadap
alam dan sesama manusia yang dipimpinnya, ia harus mengelolanya dengan baik dan
harus amanah dan memberikan suri tauladan yang baik. Kepemimpinan manusia ini
sebenarnya merupakan bagian dari ujian Allah, yang barangsiapa dapat
melakukannya dengan baik, maka luluslah ia. "Dan Dia lah yang menjadikan kamu
penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian
[yang lain] beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya
kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." [6:165]

Lalu manusia ada yang menyadari tentang misi kenapa ia harus berada di dunia,
lalu ia memanfaatkan fungsi kepemimpinannya dengan sebaik-baiknya, akan tetapi
tidak sedikit pula yang akhirnya ingkar dan tidak mau menyadari untuk apa ia di
turunkan di dunia ini, hingga akhirnya kerugianlah
yang akan didapatkannya "Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka
bumi. Barang-siapa yang kafir, maka [akibat] kekafirannya menimpa dirinya
sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan
menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu
tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka." [35:39].

Akan tetapi jika fungsi kekalifahan di bumi yang diberikan Allah dapat
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka begitu besar keberuntungan yang akan
diperolehnya, sebagaimana yang dilakukan nabi Saleh kepada umatnya "Dan kepada
Tsamud [Kami utus] saudara mereka Shaleh. Shaeh berkata: 'Hai kaumku, sembahlah
Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu
dari bumi [tanah] dan menjadikan kamu pemakmurnya , karena itu mohonlah
ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat
[rahmat-Nya] lagi memperkenankan [do'a hamba-Nya].' [11:61]


Maka hendaknya kita berhati-hati, akan amanah yang telah diberikan Allah kepada
kita, karena sebenarnya setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan
dimintai pertanggungjawabannya masing-masing di sisi Allah.
Ayat-ayat al-Qur’an tentang Kedudukan Manusia

A. QS Al Baqarah [2] : 30 tentang Kedudukan Manusia sebagai Khalifah di Atas Bumi

http://2.bp.blogspot.com/_5m32vVUwcbM/THNO0GKoIbI/AAAAAAAAAJI/yOIIyV861Xw/s320/al-baqarah30.jpg

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah : 30)
Kandungan ayat
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi kalifah di muka bumi tersebut. Khalifah ialah manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya.
B. QS Al Mukminun [23]: 12-14 tentang Proses Penciptaan Manusia

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Reni Ariningsih Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review