Kamis, 19 Januari 2012

Faktor Yang Mempengaruhi Anak Kembar

Diposkan oleh Reni Ariningsih di 06.22
Reaksi: 


A.  Pengertian Karakter dan Anak kembar
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk tetap hidup dan bekerja sama, baik dalam ruang lingkup keluarga, kelompok, masyarakat, bangsa dan bernegara. Individu berkarakter baik merupakan individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap – tiap akhibat dari keputusan yang ia buat.
Anak kembar adalah dua orang atau lebih yang lahir dari satu masa kehamilan yang sama. Jenis kelamin anak kembar  ini bisa sama tapi bisa juga berbeda. Keluarga yang memiliki anak kembar pada umumnya mempunyai peluang yang lebih besar untuk memilki anak kembar pada generasi berikutnya, dibandingkan keluarga yang tidak memiliki anak kembar.
Secara umum anak kembar memiliki banyak kesamaan, baik secara fisik maupun sifat psikologis. Kesamaan – kesamaan yang dimiliki oleh anak kembar ini, yang membuat anak kembar ini terlihat lebih unik dibandingkan dengan individu – individu lainnya. Kesamaan yang dialami oleh anak kembar cenderung disebabkan oleh dua hal, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik menyebabkan anak kembar mempunyai kesamaan dalam segi fisik, misalnya kesamaan dalam tinggi badan, bentuk muka, bentuk tubuh hingga sampai ke warna kulit. Kesamaan lain yang dimiliki anak kembar, selain kesamaan secara fisik. Yaitu mempunyai kecenderungan yang sama dalam sifat psikologis. Kesamaan sifat psikologis ini meliputi kesamaan dalam berkarakter, tempramen maupun kedekatan secara emosional atau disebut juga dengan kontak bathin. Kesamaan karakter maupun kontak bathin ini yang sering dirasakan anak kembar yang disebabkan faktor lingkungan. Orang tua memberikan pola asuh yang sama pada kedua anak kembar yang dimiliki.
Pada awalnya hal ini dilakukan untuk memudahkan para orang tua dalam mengasuh anak kembar, tapi yang terjadi kemudian anak kembar menjadi mempunyai kemiripan dalam berkarakter. Kemampuan anak kembar dalam merespon tingkah laku ataupun bahasa non verbal dari kembarannya, selain disebabkan karena anak kembar tumbuh dan kembang secara bersamaan. Perilaku pertama yang dilakukan oleh salah satu kembarannya, secara tidak langsung akan diikuti oleh kembarannya. Ini yang menjadi anak kembar terlihat sangat sensitif dan lebih tepat merespon tingkah laku kembarannya. Respon yang diberikan itu misalnya apabila salah satu anak kembar sakit makan yang lain juga akan merasakan rasa sakit itu. Bila salah satu anak kembar merasakan sedih, maka yang lain juga akan merasakan kesedihan yang sama tanpa tahu penyebab dari kesedihan tersebut.
Interaksi yang terjadi antara genetik dan lingkungan juga dapat bekerja sebaliknya, maksudnya genetik dan lingkungan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Apabila salah satu di antaranya tidak berjalan sesuai maka anak kembar tersebut juga akan merasakan perbedaan diantara keduanya. Mereka merasa bukan anak kembar. Anak yang secara genetik serupa, sering kali berkembang secara berbeda tergantung lingkungannya, apalagi lingkungan pesantren dan non pesantren. Akan terlihat jelas perbedaannya karena faktor lingkungan yang berbeda pula. Gen dapat mempengaruhi bagaimana anak – anak membuat orang tua untuk lebih beraksi secara berbeda, memunculkan perilaku yang berbeda dan gen juga dapat mempengaruhi bagaimana anak – anak mengartikan arti perbedaan dirinya dengan saudara kembarnya. Melakukan respon terhadap perlakuan tersebut dan hasil yang didapatkannya. Anak kembar juga membentuk lingkungannya sendiri dengan pilihan yang dia ambil dan struktur genetik sangat mempengaruhi pilihan – pilihan ini. Lingkungan juga merupakan tempat dimana anak – anak tumbuh dan berkembang. Anak kembar juga tidak akan selamanya menjadi anak – anak karena fisik dan emosi yang dimiliki oleh anak kembar akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertambahan usia anak kembar tersebut. Pada saat anak kembar tumbuh menjadi dewasa, secara fisik anak kembar akan tetap memiliki kesamaan. Tapi, secara psikologis perbedaan – perbedaan yang dimiliki juga akan semakin tampak. Pada saat anak kembar tumbuh memasuki masa – masa kedewasaannya akan terlihat sangat jelas kekurangan dam kelebihan yang dimiliki masing – masing pribadi anak kembar tersebut.

B.   Aliran – aliran  yang berpendapat tentang Nativisme, Empirisme dan Konvergensi
Pada awalnya setiap individu memiliki karakter yang berbeda, meskipun mereka anak kembar. Secara fisik anak kembar memiliki kesamaan dalam bentuk muka, tinggi badan, bentuk tubuh sampai warna kulit. Tetapi secara  psikologis bukan berarti mereka juga harus sama, karena suatu karakter itu tidak dalam jumlah keseluruhan tapi hanya sepaket. Misalkan anak A dan anak B, secara fisik mereka sama, mirip identik.  Tapi dari segi lain jelas akan berbeda anak A lebih menyukai warna biru sedangkan anak B lebih menyukai warna merah. Berbeda pula dengan hobi – hobinya, cara memandang suatu masalah dan apa saja yang ia inginkan. Meski mereka dilahirkan dari satu kelurga orang tua yang sama. Kembar itulah kembar tetap saja memiliki perbedaan meski tinggal ditepat yang sama, apalagi ditempat yang berbeda. Perbedaan itu akan jelas terlihat.

Aliran – aliran  yang berpendapat tentang anak kembar :
1.    Nativisme ( Pembawaan / Keluarga )
Pembawaan adalah potensi – potensi yang dibawa setiap individu ketika lahir yang merupakan warisan dari kedua orang tuanya. Para ahli yang beraliran Nativisme berpendapat bahwa perkembangan dan pertumbuhan setiap individu itu semata – mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Anak kembar juga merupakan  individu yang tidak lepas dari unsur bawaan dari orang tuanya. Nativisme adalah perkembangan atau pertumbuhan yang dipengaruhi oleh faktor keluarga atau pembawaan.
Aliran Nativisme dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1778 – 1860 ) yang berasal dari Jerman. Beliau mengatakan individu yang apabila karakter keluarganya orang baik  maka karater anak – anaknya juga akan baik dan apabila karakter keluarganya jelek maka karakter anak – anaknya juga akan jelek pula. Jadi walaupun seorang anak itu anak premen dan dia hidup di lingkungan pesantren ia akan tetap memiliki sifat kepremanannya, meski yang diterapkan tidak menyeluruh artinya hanya sebagian. Istilah yang tepat untuk aliran ini “ Tidak ada emas yang menjadi perak ”.
Begitu pula dengan anak kembar, tidak selamanya anak kembar akan menjadi anak – anak. Mereka akan tumbuh dan berkembang di satu lingkungan yang mungkin akan berbeda, mereka akan menanamkan nilai – nilai yang pernah mereka pelajari sejak kecil dan tidak akan merubahnya meskipun mereka tinggal terpisah.

2.    Empirisme ( Lingkungan )
Lingkungan sering diartikan orang secara sempit dengan alam sekitar. Dalam psikologi lingkungan dapat diartikan dalam arti luas yaitu yang mencakup lingkungan yang ada di dalam dan di luar individu. Lingkungan adalah segala sesuatu yang di luar diri anak yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak tersebut. Sedangkan empirisme adalah perkembangan dan pertumbuhan yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Faktor lingkungan juga sering diartikan sebagai faktor ajar. Dengan demikian, lingkungan dapat memperkenalkan anak kepada benda – benda, orang – orang, tempat bersejarah, keadaan dan peristiwa yang ada disekitar lingkungan anak. Yang biasanya memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Di samping lingkungan itu memberikan kesempatan kepada kemungkinan – kemungkinan sifat bawaan pada anak itu akan berkembang. Yang kemudian lama – lama sifat bawaan  itu akan terkikis dengan sendirinya. Sifat bawaan adalah sifat yang diturunkan pada keluarga, yang apabila dalam keluarga itu karakter orang tuanya baik maka anaknya juga baik. Begitu sebaliknya.
Aliran empirisme dipelopori oleh Jhon Locke ( 1632 – 1704 ). Beliau mengatakan lingkungan sangat berpengaruh besar ketimbang sifat bawaan pada seorang anak. Karena sedikit demi sedikit sifat bawaan tersebut akan terkikis ketika seorang anak tersebut berpisah dengan keluarganya.

3.    Konvergensi
Konvergensi adalah perkembangan dan pertumbuhan yang dipengaruhi oleh faktor keluarga dan lingkungan. Aliran ini berpendapat, bahwa di dalam perkembangan dan pertumbuhan setiap individu itu baik dasar atau bawaan ( keluarga ) ataupun lingkungan samuanya mengambil peranan yang sanagt penting. Fakta yang menunjukkan bahwa warisan karakter bawaan yang baik saja tanpa ada pengaruh dari faktor lingkungan yang tidak baik, tidak  dapat membina keperibadian yang baik ideal. Bakat merupakan sebagai kemungkinan telah ada pada masing – masing individu, akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu suatu pengembangan dari tiap – tiap individu tersebut. Misalnya : Tiap manusia yang normal memilki bakat untuk tegak atas kedua kaki; bakat ini tidak akan aktual ( menjadi kenyataan ) apabila anak manusia itu tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia. Anak yang semenjak kecilnya diasuh oleh monyet maka ia tidak dapat berdiri tegak di atas kakinya; mungkin dia akan berjalan di atas tangan dan kedua kakinya ( berjalan seperti monyet ). Ini salah satu contoh dari aliran konvergensi.


C.  Pengaruh aliran – aliran  Nativisme, Empirisme dan Konvergensi pada Perkembangan karakter Anak kembar

Setiap manusia yang ada di dunia ini memiliki karakter yang berbeda meskipun mereka anak kembar dan dilahirkan pada satu keluarga ( orang tua ) yang sama. Tetapi tidak menutup kemungkinan sifat dan sikap mereka berbeda. Pada dasar anak kembar adalah dua orang anak atau lebih yang lahir dari satu masa kehamilan yang sama. Jenis kelamin dari anak kembar tersebut bisa sama dan bisa juga berbeda. Secara umum anak kembar memiliki banyak kesamaan, baik secara fisik maupun secara psikologis. Kesamaan yang dimiliki anak kembar dalam segi fisik dapat terlihat dari bentuk muka, bentuk tubuh, tinggi badan hingga sampai pada warna kulit. Kesamaan ini akan terlihat jelas pada setiap anak kembar.

Individu memiliki karakter yang berbeda, sekalipun mereka kembar. Anak kembar yang apabila di keluarga didik baik belum tentu juga dia akan baik. Karena pada dasarnya sifat bawaan tidak akan selamanya ada pada karakter anak tersebut. Semakin tumbuh anak semakin hilang juga sifat – sufat bawaannya ( keluarga ). Begitu pula anak kembar, tidak selamaya kembar akan menjadi anak – anak, mereka pun sama kaya seperti individu yang lain yang hidup normal. Anak kembar yang di pisahkan akan jelas berbeda, perbedaan itu sangat tampak terjelas dari beberapa segi. Sebagai penjabaran adalah sebagai berikut :
a.        Segi beribadah
Anak kembar yang tinggal di lingkungan pesantren dalam segi beribadah  dia berkualitas sangat baik dibandingkan dengan anak kembar yang tinggal di lingkungan non pesantren. Karena anak kembar yang tinggal di lingkungan pesantren dia benar – benar di didik tentang keagamaan, tentang hidup yang mandiri, sholat tepat waktu dan berbagai ibadah lainnya yang mengacu untuk kesehariannya.
b.        Segi berbicara
Anak kembar yang tinggal di lingkungan pesantren dalam segi berbicara dia sopan santun, bukan hanya terhadap teman sebaya dan orang yang lebih tua darinya. Tetapi pada anak kecilpun dia akan sopan. Sedangkan anak yang tinggal di lingkungan non pesantren biasa nya hanya pada orang tua saja dia bersopan santun
c.         Segi berpakaian
Anak yang tinggal di lingkungan pesantren dalam segi berpakaian dia akan terlihat sopan rapi dan selalu menutup auratnya dalam kesehariannya. Sedangkan anak yang tinggal di lingkungan non pesantren dia lebih modis dan jarang sekali menutup auratnya ( memakai jilbab )
d.        Segi berpikir
Anak yang tinggal di lingkungan pesantren dalam segi berpikir dia berpikir secara rasional, artinya dia tidak hanya menerima satu alas an dari sebuah masalah. Dia akan menimbang memilih mana yang baik dan mana yang benar. Sedangkan anak yang tinggal di lingkungan non pesantren cara berpikir cepat tidak rasional dan egois. Mau dimengerti tapi tidak mau mengerti.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakter anak itu ditentukan dari faktor  lingkungan ( empirisme ). Meskipun mereka kembar tetapi apabila mereka dipisahkan di lingkungan yang berbeda. Mereke pun akan berbea dari beberapa segi. Perbedaan – perbedaan itu sangat jelas sekali. Pada dasarnya orang tua memberikan asupan yang sama tapi anak kembar tersebut tidak semuanya dalam mengimplementasikan  asupan – asupan tersebut dengan baik dan sama. Karena implementasi ini yang akan menentukan mereka untuk membina sebuah harapan yang masih bersifat abstrak.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Reni Ariningsih Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review