Sabtu, 05 Mei 2012

Asas-asas Didaktik

Diposting oleh Unknown di 07.28

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pendidikan merupakan aspek terpenting untuk dimiliki oleh setiap umat manusia.  Karena dengan pendidikan dapat menciptakan perubahan sikap yang baik pada diri seseorang. Pendidikan mempunyai dua proses utama yaitu mengajar dan diajar. Mengajar ditingkat pendidikan formal biasanya dilakukan oleh seseorang guru. Guru dalam proses belajar mengajar mempunyai tiga peranan yaitu sebagai pengajar, pembimbing dan administrator kelas.
Guru sebagai pengajar berperan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk menguasai seperangkat  pengetahuan dan keteramilan dalam mengajar. Guru sebagai pembimbing diharapkan dapat memberikan bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Peranan ini termasuk ke dalam aspek pendidik sebab tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan juga mendidik untuk mengalihkan nilai-nilai kehidupan. Hal tersebut menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah sikap yang mengubah tingkah laku peserta menjadi lebih baik.
Guru sebagai administrator kelas berperan dalam pengelolaan proses belajar mengajar di kelas. Guru merupakan komponen penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional. Guru yang berkualitas, profesional dan berpengetahuan, tidak hanya berprofesi sebagai pengajar, namun juga mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.
Berdasarkan Standar Nasional Kependidikan, guru harus memiliki empat kompetensi dasar yaitu kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional. Namun, kompetensi-kompetensi yang dimiliki guru saat ini masih terbatas, sehingga diperlukan suatu upaya untuk mengoptimalkan kompetensi-kompetensi tersebut. Kompetensi-kompetensi yang akan dibahas dalam makalah ini terbatas pada kompetensi-kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional. Kompetensi kepribadian adalah karakteristik pribadi yang harus dimiliki guru sebagai individu yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa dan menjadi teladan bagi peserta didik.Kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan mereka membimbing peserta didik dalam menguasai materi yang diajarkan.
Guru yang bermutu dan profesional menjadi tuntutan masyarakat seiring dengan tuntutan persyaratan kerja yang semakin ketat mengikuti kemajuan era globalisasi.Untuk membentuk guru yang profesional sangat tergantung pada banyak hal yaitu guru itu sendiri, pemerintah, masyarakat dan orang tua.Berdasarkan kenyataan yang ada, pemerintah telah mengupayakan berbagai hal, diantaranya sertifikasi guru. Dengan adanya program sertifikasi tersebut, kualitas mengajar guru akan lebih baik.


B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan Didaktik ?
2.      Asas-asas apa saja yang harus dikuasai seorang pendidik atau pengajar ?

C.  Tujuan Masalah
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk :
1.      Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan Didaktik
2.      Dapat mengetahui asas-asas apa saja yang harus dimiliki seorang pendidik atau pengajar



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Didaktik
Didaktik berasal dari bahasa Yunani “didoskein”, yang berarti pengajaran atau “didaktos” yang berarti pandai mengajar. Di Indonesia didaktik berarti ilmu mengajar. Karena didaktik berarti ilmu mengajar, maka pengertian didaktik menyangkut pengertian yang sangat luas. Dalam kaitan pembicaraan tentang didaktik, pengertian didaktik akan difokuskan pada bagaimana perlakuan guru dalam proses belajar mengajar tersebut. Mengajar menurut pengertian modern berarti aktivitas guru dalam mengorganisasikan lingkungan dan mendekatkannya kepada anak didik sehingga terjadi proses belajar (Nasution 1935 : 5).
Bertolak dari pengertian di atas, keberhasilan mengajar tentunya harus diukur dari bagaimana partisipasi anak dalam proses belajar mengajar dan seberapa jauh hasil yang telah dicapainya. Dalam menjawab dua permasalahan tersebut, ahli-ahli didaktik mengarahkan perhatiannya pada tingkah laku guru sebagai organisator proses belajar mengajar. Maka timbulah prinsip-prinsip didaktik atau asas-asas mengajar, yaitu kaidah atau rambu-rambu bagi guru agar lebih berhasil dalam mengajar.
Jadi, dalam uraian ini yang dimaksud asas-asas didaktik ialah prinsip-prinsip, kaidah mengajar yang dilaksanakan oleh guru secara maksimal, agar lebih berhasil. Sebagian para ahli mengatakan bahwa mengajar adalah menanamkan pengetahuan sebanyak-banyaknya dalam diri anak didik. Dalam hal ini guru memegang peranan utama, sedangkan siswa tinggal menerima, bersifat pasif. Pengajaran yang berpusat kepada guru bersifat teacher centered. Ilmu pengetahuan yang diberikan kepada siswa kebanyakan hanya diambil dari buku-buku pelajaran, tanpa dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari siswa.Pelajaran serupa ini disebut intelektualistis.
Sebagian para ahli lainnya mengatakan bahwa mengajar merupakan usaha penyampaian kebudayaan kepada anak didik. Definisi kedua ini hampir sama maksudnya dengan definisi pertama. Tentu saja yang diinginkan adalah agar anak mengenal kebudayaan bangsa, kebudayaan suku dan marganya. Tetapi lebih dari itu diharapkan agar anak didik tidak hanya menguasai kebudayaan yang ada, tetapi juga ikut memperkaya kebudayaan tersebut dengan menciptakan kebudayaan baru menurut zaman yang senantiasa mengalami perubahan.Sebagian para ahli yang lain lagi mengatakan bahwa mengajar diartikan menata berbagai kondisi belajar secara pantas. Kondisi yang ditata itu adalah kondisi eksternal anak didik. Termasuk di dalam kondisi eksternal ini adalah komunikasi verbal guru dengan anak didik.
Dengan demikian, sesungguhnya kunci proses belajar-mengajar itu terletak pada penataan dan perancangan yang memungkinkan anak didik dapat berinteraktif. Dengan  berinteraktif maksudnya adalah terjadinya hubungan timbal- balik personal anak dengan lingkungan. Anak  didik dapat berinteraktif dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Tiap usaha mengajar  sebenarnya ingin menumbuhkan atau menyempurnakan pola laku tertentu dalam diri peserta didik. Yang dimaksud dengan pola laku adalah kerangka dasar dari sejumlah kegiatan yang lazim dilaksanakan manusia untuk bertahan hidup dan untuk memperbaiki mutu hidupnya dalam situasi nyata. Kegiatan itu bisa berupa kegiatan rohani, misalnya mengamati, menganalisis, dan menilai keadaan dengan daya nalar. Bisa juga berupa kegiatan jasmani.yang dilakukan dengan tenaga dan keterampilan fisik.
Umumnya rnanusia bertindak secara manusiawi apabila kedua jenis kegiatan tersebut dibuat secara terjalin dan terpadu. Di samping menumbuhkan dan menyempumakan pola laku, pengajaran juga menumbuhkan kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan sebagai keterarahan, kesiapsiagaan di dalam diri manusia untuk melakukan kegiatan yang sama atau serupa atas cara yang lebih mudah, tanpa memeras atau memboroskan tenaga. Kebiasaan akan timbul justru apabila kegiatan manusia, baik rohani maupun jasmani dilakukan berulang kali dengan sadar dan penuh perhitungan.


B.     Prinsip-prinsip Mengajar
Prinsip mengajar adalah suatu aturan yang berlaku bagi seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Prinsip-prinsip tersebut disebut dengan asas-asas didaktik. Dengan demikian prinsip-prinsip tersebut harus diketahui dan dipahami serta dapat diterapkan oleh guru atau calon guru agar dapat mengajar dengan baik dan berhasil sesuai dengan tujuan.
Adapun prinsip-prinsip mengajar antara lain :
1.      Asas Motivasi
Motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Ada tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi ini mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling dan rangsangan karena adanya tujuan. Motivasi sebagai motor penggerak segala aktivitas, sehingga jika motornya tidak ada, maka aktivitas tidak akan terjadi. Jika motornya lemah, aktivitas yang terjadi pun akan lemah pula.
Motivasi belajar erat kaitannya dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar itu sendiri. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai berguna atau bermanfaat bagi dirinya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar ini ada yang timbul dari dalam diri siswa sendiri (motivasi intrinsik). Motivasi intrinsik disebut juga motivasi murni, karena muncul dari diri siswa sendiri. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin harus berusaha untuk memunculkan motivasi intrinsik di kalangan siswa pada saat mereka belajar, umpamanya dengan caramenjelaskan kaitan tujuan pembelajaran dengan kepentingan atau kebutuhansiswa. Sedangkan untuk memunculkan motivasi ekstrinsikdapat dilakukan antara lain dengan cara memberi pujian, hadiah, menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, memberi nasihat, atau upaya-upaya lain yang dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar.
Motivasi selalu berkait dengan soal kebutuhan. Ada beberapa jenis kebutuhan misalnya : kebutuhan untuk menyenangkan orang lain, kebutuhan untuk mencapai hasil, kebutuhan untuk mengatasi kesulitan. Sehubungan dengan itu, timbullah beberapa motivasi yang berpangkal pada kebutuhan, yaitu:
a.    Kebutuhan fisiologis seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya
b.    Kebutuhan akan keamanan yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan
c.    Kebutuhan akan cinta dan kasih sayang yakni rasa diterima dalam suatu masyarakat atau golongan (keluarga, sekolah, dan masyarakat)
d.   Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial, pembentukan pribadi
Setiap motivasi bertalian erat dengan suatu peranan. Adapun peranan tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Mendorong manusia untuk berbuat. Menjadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energy
b.      Menentukan arah perbuatan yaitu ke arah tujuan yang hendak dicapai
c.       Menyeleksi perbuatan yakni menentukan  perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu, dengan menyampingkan perbuatan-perbutan yang tak bermanfaat bagi tujuan itu. Seorang yang betul-betul bertekad menang dalam pertan dingan, tak akan menghabiskan waktunya bermain kartu, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Dalam bahasa sehari-hari motivasi dinyatakan dengan hasrat, keinginan, maksud, tekad, kemauan, dorongan, kebutuhan, kehendak, cita-cita, keharusan, kesediaan, dan sebagainya.
2.      Asas Aktivitas
Pada waktu mengajar guru harus memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk mengambil bagian yang aktif baik rohani maupun jasmani terhadap pengajaran yang diberikan, secara perorangan maupun kelompok.
Yang dimaksud keaktipan jasmani adalah berbagai kegiatan yang dilakukan murid seperti kesibukan melakukan penelitian, percobaan, membuat konstruksi model, bercocok tanam dan sebagainya.
Sedangkan keaktifan rohani ialah bekerjanya unsur-unsur kejiwaan murid dalam pengajaran yang tampak jelas pada ketekunan mengikuti pelajaran, mengamati secara cermat, mengingat, berfikir untuk memecahkan persoalan dan mengambil kesimpulan. Terdorong oleh perasaan dan kemauan yang kuat unsur-unsur kejiwaan itu akan berfungsi dengan baik untuk mendapatkan hasil pelajaransebanyak mungkin.
Menurut Piaget (psycholog kelahiran Swiss), seseorang anak berfikir sepanjang dia berbuat. Tanpa perbuatan anak tak berfikir, agar anak berfiir sendiri, harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri.
Tanpa aktivitas belajar, pengajaran tidak akan member hasil yang baik. Usaha-usaha guru membangkitkan keaktifan jasmani murid, antara lain :
a.       Dengan menyelenggarakan berbagai bentuk pekerjaan yang bersifat keterampilan perbengkelan, pertukangan, pertanian, perikanan, kerajinan, penelitian di laboratorium dan sebagainya.
b.      Mengadakan pecan olahraga dan seni, pameran, karya wisata dan sebagainya
c.       Membimbing serta mendorong anak-anak dalam berdiskusi
d.      Memberikan tugas kepada anak-anak untuk memecahkan suatu masalah
e.       Mengadakan berbagai penelitian dan percobaan, menganalisis data, membuat kesimpulan, menyusun laporan dan sebagainya
3.      Asas Peragaan
Penyakit yang paling berkecamuk di sekolah adalah verbalisme. Bahaya verbalisme terdapat dalam tiap situasi belajar, yakni apabila anak-anak diberi kata-kata tanpa memahami artinya.
Penyakit verbalisme biasanya tidak terdapat dalam hal-hal yang dipelajari anak-anak sebelum mereka bersekolah. Oleh sebab itu, pembendaharaan bahasanya diperolehnya dengan pengalaman langsung, dengan melihat, mendengar, mengecap, meraba, serta menggunakan alat indra lainnya. Hasil pelajaran serupa itu dapat dianggap permanen dan tak akan dilupakannya. Hal ini juga disebabkan karena kata-kata itu sederhana dan selalu atau sering digunakan secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata itu benar-benar mereka kenal, karena mereka mempelajarinya melalui pengalaman yang konkrit.
Akan tetapi segera anak itu masuk ke sekolah dia menerima cara belajar yang baru yakni dengan perantara kata-kata tertulis. Ia disuruh menghafal kata-kata yang tidak dipahaminya benar, karena diperolehnya tidak melalui pengalaman yang konkrit melainkan berdasarkan bacaan. Karena ia pandai membaca ia dapat pula mengucapkan sejumlah besar kata-kata yang tidak dipahami artinya. Jelas kiranya bahwa belajar dengan jalan menghafal bukan saja memudahkan timbulnya verbalisme, tetapi juga kurang menarik, kurang menyenangkan dan segera membosankan.
Suatu kekurangan dalam pendidikan adalah jika kita mengajarkan kata-kata yang tidak mempunyai isi dan arti yang jelas. Kekurangannya nyata apabila anak harus mempelajari buku dengan membacanya. Sebenarnya membaca itu bukanlah mengambil makna dari tulisan itu. Dalam atau dangkalnya makna itu bergantung pada pengalaman atau latar belakang si pembaca.
Dalam peragaan ada maksud dan tujuan yang hendak dicapai yakni, memberikan variasi dalam cara-cara kita mengajar, memberikan lebih banyak realitas dalam mengajar itu, sehingga lebih berwujud, lebih terarah untuk mencapai tujuan pelajaran.
Alat-alat peraga sebagai alat pembantu dalam mengajar agar efektif, dalam garis besarnya memiliki faedah atau nilai berikut :
a.       Menambah kegiatan belajar murid
b.      Menghemat waktu belajar (ekonomis)
c.       Menyebabkan agar hasil belajar lebih permanen atau mantap
d.      Membantu anak-anak yang ketinggalan dalam pelajarannya
e.       Memberikan alas an yang wajar untuk belajar karena membangkitkan minat perhatian (motivasi) dan aktivitas pada murid
f.       Memberikan pemahaman yang lebih tepat dan jelas
Jenis kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan asas peragaan dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan yaitu :
a.       Pengalaman lansung
Anak diminta untuk mengalami, berbuat sendiri, dan mengelola serta merenungkan apa yang dikerjakan
b.      Pengalaman yang diatur
Jika realitas terlalu besar atau kecil atau tidak ada ditempat maka realitas itu dapat diperagakan dengan model
c.       Dramatisasi
Misalnya : Sandiwara, permainan peran, pantonim, dan sandiwara boneka


d.      Demontrasi
Biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat pembantu seperti papan tulis, papan plannel, OHP, dan lain-lain. Banyak topik yang diangkat dalam pembelajaran di sekolah dan dapat diajarkan dengan peragaan demontrasi.
e.       Karyawisata
Kegiatan ini sebenarnya sangat baik untuk  menjadikan proses pembelajaran yang disenangi siswa. Kegiatan yang diprogramkan dengan melibatkan penerapan konsep budaya dalam kesenian, mengukur tinggi secara langsung, mengukur lebar sungai, mendata kecenderungan kejadian dan realitas yang ada pada lingkungan merupakan kegitan yang sangat menarik dan bermakna pada siswa.
f.       Pameran
Berbagai bentuk pameran ternyata dapat menyedot anak dan berusaha untuk mencobanya
g.      Televisi
Program pembelajaran yang disiarkan melalui televisi juga merupakan alternativ pembelajaran secara umum
4.      Asas Individualitas
Tak ada dua anak yang sama disebabkan oleh perbedaan pembawaan lingkungan. Salah satu perbedaan ialah taraf intelegensi anak-anak, yang dinyatakan dengan IQ. Faktor lain yang turut menyebabkan perbedaan adalah keadaan rumah, lingkungan sekitar rumah, pendidikan, kesehatan anak, makanan, usia, keadaan sosial ekonomi orang tua, dan lain-lain.
Pada umumnya prinsip individualitas ini masih kurang mendapat perhatian di sekolah kita. Cara mengajar terutama brbentuk ceramah yang menyamaratakan semua murid. Kelas yang besar dan kekurangan-kekurangan alat-alat juga merupakan halangan untuk mewujudkan Undang-undang Dasar kita yang menyatakan bahwa setiap anak berhak berkembang sesuai dengan bakat masing-masing.
5.      Lingkungan
Sekolah tak lepas dari masyarakat. Sekolah didirikan masyarakat untuk mendidik anak menjadi warga negara yang berguna dalam masyarakat. Tetapi disamping itu masyarakat atau lingkungan dapat pula merupakan laboratorium dan sumber yang penuh kemungkinan untuk memperkaya pengajaran. Itu sebab itu, setiap guru harus mengenal masyarakat serta lingkungannya dan menggunakannya secara fungsional dalam pelajarannya.
Ada bermacam-macam cara untuk menggunakan sumber-sumber dalam lingkungan untuk kepentingan pelajaran. Pada umumnya kita dapat membaginya dalam dua golongan :
a.       Membawa anak ke dalam lingkungan dan masyarakat untuk keperluan pelajaran. Contohnya adalah karyawisata. Karyawisata mempunyai nilai-nilai sebagai berikut :
1.      Memberikan pengalaman-pengalaman langsung. Anak belajar dengan menggunakan segala macam alat indra
2.      Memberi motivasi kepada murid untuk menyelidiki sebab musabab sesuatu
b.      Membawa sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas untuk kepentingan pelajaran. Contohnya adalah benda-benda seperti pameran atau koleksi.
Selama karyawisata dan survey anak-anak mendapat kesempatan untuk mengumpulkan berbagai-bagai benda. Anak dapat mengumpulkan hasil industri dan pertanian dari lingkungan sekolah itu seperti obat-obatan, kue, macam-macam tekstil dan sebagainya. Mereka dapat pula mengumpulkan benda-benda dan binatang dari alam sekitarnya seperti jenis-jenis batu, pasir, tanah, bunga, serangga, dan lain sebagainya. Dapat pula mereka meminta agar seorang murid memperlihatkan koleksi batu-batu, perangko, boneka, dan lain sebagainya. Benda-benda itu hendaknya dipamerkan di sekolah
6.      Kerjasama (Kooperasi)
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial . Pendidikan mengantarkan siswa agar menjadi manusia seutuhnya maupun menjadi makhluk yang secara individu bertanggung jawab pada didrinya, keluarga, dan bangsanya dengan memiliki pengetahuan, ketrampilan, moral ketaqwaan dan mempunyai komitmen pada bangsa dan negara, sekaligus jadi makluk sosial yang demokratis, toleran dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Pada pembelajaran yang menggunakan kerja kelompok perlu menerapkan prisip-prinsip sebagai berikut :
a.       Siswa harus mempunyai kejelasan tujuan
b.      Setiap anggota harus mempunyai konstribusi untuk menyelesaikan tugas
c.       Anggota harus bertanggung jawab pada kelompok
d.      Pemecahan masalah harus demokratis
e.       Pimpinan kelompok harus menciptakan suasana yang dinamis
f.       Setiap anggota harus bertanggung jawab pada kelompok
g.      Perlu digunakan penilaian terhadap kemajuan kelompok
h.      Mampu menimbulkan perubahan yang konstruktif
i.        Setiap anggota merasa puas dan aman dalam belajar


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Didaktik berasal dari bahasa Yunani “didoskein”, yang berarti pengajaran atau “didaktos” yang berarti pandai mengajar. Di Indonesia didaktik berarti ilmu mengajar. Karena didaktik berarti ilmu mengajar, maka pengertian didaktik menyangkut pengertian yang sangat luas. Dengan demikian, sesungguhnya kunci proses belajar-mengajar itu terletak pada penataan dan perancangan yang memungkinkan anak didik dapat berinteraktif. Dengan  berinteraktif maksudnya adalah terjadinya hubungan timbal- balik personal anak dengan lingkungan. Anak  didik dapat berinteraktif dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Tiap usaha mengajar  sebenarnya ingin menumbuhkan atau menyempurnakan pola laku tertentu dalam diri peserta didik. Yang dimaksud dengan pola laku adalah kerangka dasar dari sejumlah kegiatan yang lazim dilaksanakan manusia untuk bertahan hidup dan untuk memperbaiki mutu hidupnya dalam situasi nyata. Kegiatan itu bisa berupa kegiatan rohani, misalnya mengamati, menganalisis, dan menilai keadaan dengan daya nalar. Bisa juga berupa kegiatan jasmani.yang dilakukan dengan tenaga dan keterampilan fisik. Di samping menumbuhkan dan menyempumakan pola laku, pengajaran juga menumbuhkan kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan sebagai keterarahan, kesiapsiagaan di dalam diri manusia untuk melakukan kegiatan yang sama atau serupa atas cara yang lebih mudah, tanpa memeras atau memboroskan tenaga. Kebiasaan akan timbul justru apabila kegiatan manusia, baik rohani maupun jasmani dilakukan berulang kali dengan sadar dan penuh perhitungan.
Prinsip mengajar adalah suatu aturan yang berlaku bagi seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Prinsip-prinsip tersebut disebut dengan asas-asas didaktik. Dengan demikian prinsip-prinsip tersebut harus diketahui dan dipahami serta dapat diterapkan oleh guru atau calon guru agar dapat mengajar dengan baik dan berhasil sesuai dengan tujuan.
Motivasi belajar erat kaitannya dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar itu sendiri. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai berguna atau bermanfaat bagi dirinya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar ini ada yang timbul dari dalam diri siswa sendiri (motivasi intrinsik). Motivasi intrinsik disebut juga motivasi murni, karena muncul dari diri siswa sendiri. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin harus berusaha untuk memunculkan motivasi intrinsik di kalangan siswa
Pada waktu mengajar guru harus memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk mengambil bagian yang aktif baik rohani maupun jasmani terhadap pengajaran yang diberikan, secara perorangan maupun kelompok. Yang dimaksud keaktipan jasmani adalah berbagai kegiatan yang dilakukan murid seperti kesibukan melakukan penelitian, percobaan, membuat konstruksi model, bercocok tanam dan sebagainya.
Dalam peragaan ada maksud dan tujuan yang hendak dicapai yakni, memberikan variasi dalam cara-cara kita mengajar, memberikan lebih banyak realitas dalam mengajar itu, sehingga lebih berwujud, lebih terarah untuk mencapai tujuan pelajaran. Tak ada dua anak yang sama disebabkan oleh perbedaan pembawaan lingkungan. Salah satu perbedaan ialah taraf intelegensi anak-anak, yang dinyatakan dengan IQ. Faktor lain yang turut menyebabkan perbedaan adalah keadaan rumah, lingkungan sekitar rumah, pendidikan, kesehatan anak, makanan, usia, keadaan sosial ekonomi orang tua, dan lain-lain. Pada umumnya prinsip individualitas ini masih kurang mendapat perhatian di sekolah kita.
Cara mengajar terutama brbentuk ceramah yang menyamaratakan semua murid. Kelas yang besar dan kekurangan-kekurangan alat-alat juga merupakan halangan untuk mewujudkan Undang-undang Dasar kita yang menyatakan bahwa setiap anak berhak berkembang sesuai dengan bakat masing-masing. Sekolah tak lepas dari masyarakat. Sekolah didirikan masyarakat untuk mendidik anak menjadi warga negara yang berguna dalam masyarakat. Tetapi disamping itu masyarakat atau lingkungan dapat pula merupakan laboratorium dan sumber yang penuh kemungkinan untuk memperkaya pengajaran. Itu sebab itu, setiap guru harus mengenal masyarakat serta lingkungannya dan menggunakannya secara fungsional dalam pelajarannya. Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial . Pendidikan mengantarkan siswa agar menjadi manusia seutuhnya maupun menjadi makhluk yang secara individu bertanggung jawab pada didrinya, keluarga, dan bangsanya dengan memiliki pengetahuan, ketrampilan, moral ketaqwaan dan mempunyai komitmen pada bangsa dan negara, sekaligus jadi makluk sosial yang demokratis, toleran dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
B.   Saran
Menguasai asas-asas didaktik belum  merupakan suatu jaminan bahwa seseorang dengan sendirinya akan menjadi guru yang baik. Mengajar itu sangat kompleks dan dipengaruhi oleh macam-macam faktor lain pribadi guru sendiri, suasana kelas, hubungan antar-manusia, keadaan sosial ekonomi negara, organisasi kurikulum dan sebagainya. Dengan didaktik atau ilmu mengajar akan memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran sehingga dikuasai dan dimiliki oleh anak-anak. Prinsip yang dikemukan adalah motivasi, aktivitas, peragaan, individualitas, lingkungan, dan kerjasama. Akan tetapi seseorang pasti tidak akan menjadi guru yang baik kalau guru tersebut mengabaikan asas-asas didaktik. Oleh sebab itu, didaktik sangat perlu dikembangkan dan dipelajari oleh kita sebagai calon pendidik.
Kita sebagai calon pendidik harus tahu apa itu didaktik. Apa saja prinsip-prinsip didaktik. Karena dengan belajar didaktik kita dapat memahami setiap karakter peserta didik. Dengan memahami karakter peserta didik , kita bisa tahu beberapa karakter dan cara untuk mengatasi sifat dan sikap siswa. Sebagai calon pendidik kita juga diberikan pengarahan. Bagaimana cara mengajar yang baik, serta apa saja yang harus kita lakukan dan kita terapkan dalam suasana belajar-mengajar. Supaya kondisi kelas tetap nyaman. Ada banyak alternativ untuk selalu menciptakan suasana yang nyaman. Yaitu dari diri kita dulu, sebagai pendidik kita tidak boleh memberikan perhatian yang lebih pada satu siswa saja. Istilahnya pilih kasih, tapi kita sebagai pendidik harus memberikan perhatian secara menyeluruh atau merata. Memberikan beberapa penguatan. Penguatan di bagi menjadi dua, yaitu : penguatan positif diantaranya memberikan reword, pujian, tepuk tangan dan sebagainya. Sedangkan penguatan negativ diantaranya memberikan hukuman sesuai dengan kesalahan peserta didik. Tapi kita sebagai calon pendidik hendaklah menjauhi kekerasan dalam kegiatan belajar mengajar. Karena akan timbul suatu masalah dalam lingkungan sekolah.




LAMPIRAN
1.    Amalia (Kelompok 6)
Bagaimana caranya menumbuhkan sikap atau kebiasaan baik pada peserta didik. Agar peserta didik tersebut bisa menerimanya ?
Jawab
Penyaji
Banyak cara yang dilakukan oleh pendidik untuk menumbuhkan kebiasaan baik pada peserta didik salah satu contohnya yaitu dengan mengenal karakter setiap peserta didik tersebut, kemudian mendekatinya bahkan bila perlu kita jadikan peserta didik itu sebagai teman kita sendiri. Agar peserta didik tersebut merasa lebih nyaman dengan kita.
Rizka Rahayu
Iya, benar. Apa yang dikatakan penyaji. Pertama-tama kita harus mengenal karakter peserta didik terlebih dahulu. Kemudian kita memberikan arahan, bimbingan yang sifatnya mendidik. Ada juga cara lain yang bisa dilakukan oleh pendidik yaitu dengan menerapkan slogan-slogan yang dapat menumbuhkan suatu kebiasaan baik untuk peserta didik dikemudian hari.
2.    Puspa Pandini (Kelompok 7)
Bagaimana caranya menciptakan pendidikan yang baik dalam lingkungan keluarga ?
Jawab
Penyaji
Caranya dengan melakukan komunikasi yang baik, menanamkan ilmu-ilmu agama, dan juga memberikan contoh yang baik serta kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu otoriter kepada anak-anak kita.
Tsamrotul Maisyah
Dengan cara memberikan fasilitas, memberikan pendidikan moral, memberikan perhatian, pengawasan dan bimbingan kepada anak.


3.      Fenti Rosdiana (Kelompok 8)
Bagaimana cara memotivasi anak didik agar mempunyai semangat untuk belajar ?
Jawab
Penyaji
Cara memotivasi anak yaitu dengan cara memberikan penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif yaitu dengan cara memberikan reword, pujian, hadiah, dll. Sedangkan penguatan negatif yaitu dengan memberikan hukuman yang bersifat mendidik.
Nuraeni
Dari diri kita memberikan suasana belajar yang nyaman agar peserta didik merasa nyaman dan senang terhadap pelajaran tersebut.
Puspita Ratih
Memberikan situasi belajar yang menyenangkan seperti dengan games, kuis,dll.
Tsamrotul Maisyah
Cara mengajar yang menarik, memberikan selingan yang sehat, menggunakan alat-alat peraga, kurangi sejauh mungkin yang mengganggu konsentrasi-kosentrasi anak didik.
4.      Nunung Nurhasanah (Kelompok 2)
Mengapa kita sebagai pendidik tidak boleh memanjakan anak didik kita ?
Jawab
Penyaji
Karena apabila kita terlalu memanjakan anak didik kita akan timbul karakter pada anak didik yang tidak mandiri. Kita sebagai calon pendidik harus menanamkan nilai-nilai kemandirian, membantu, menuntun dan membimbingnya bukan memanjakannya.
Nuraeni
Kita harus menyayanginya tapi tidak memanjakannya. Jadi tahu pastinya.
Syamsul Ma’arif
Diberikan kasih sayang, menerapkan kebiasaan mandiri. Jadi kita harus professional dan kondisional.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Reni Ariningsih Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review