Minggu, 03 Juni 2012

Lingkungan Pendidikan

Diposting oleh Unknown di 04.59 0 komentar

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Keluarga (Lingkungan Pendidikan Informal)
Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi anak yang memberikan sumbangan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik dalam kehidupannya. Pendidikan dalam lingkungan keluarga dimulai sejak anak lahir ke dunia dari kandungan ibunya, dan berhenti apabila sang anak meninggalkan keluarga asal untuk mendirikan keluarga baru.

1.      Pengertian dan Ciri-ciri Keluarga
Secara umum keluarga merupakan suatu lembaga yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak yang belum menikah, hidup dalam sebuah kesatuan kelompok berdasarkan ikatan tertentu. Selanjutnya M.I Soelaeman (1994) mengemukakan cirri-ciri keluarga menurut M.C Iver dan Page, seperti berikut :
a.       Adanya hubungan berpasangan antar kedua jenis (pria dan wanita)
b.      Dikukuhkan oleh ikatan pernikahan
c.       Adanya pengakuan terhadap keturunan (anak) yang dilahirkan dalam rangka hubungan tersebut
d.      Adanya kehidupan ekonomi yang diselenggarakan secara bersama-sama, dan
e.       Diselenggarakannya kehidupan berumah tangga

2.      Fungsi Keluarga
Demi perkembangan dan pendidikan anak, keluarga harus mempunyai atau melaksanakan fungsi-fungsinya dengan baik dan seimbang. M.I Soelaeman (1994) mengemukakan beberapa fungsi keluarga yaitu :
a.       Fungsi Edukasi
Fungsi ini berkaitan dengan keluarga sebagai wahana pendidikan anak khususnya dan pendidikan anggota keluarga lainnya. Fungsi ini tidak sekedar menyangkut pelaksanaanya, melainkan meyangkut penentuan sarana, pengayaan wawasan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan upaya pendidikan keluarga. Keluarga sebagai wahana pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya agar menjadi manusia yang sehat, tangguh, maju, dan mandiri sesuai dengan tuntutan perkembangan waktu.
b.      Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi dapat diartikan belajar sosial artinya anak mempelajari nilai-nilai sosial, keluarga menjadi penghubung anak dengan kehidupan sosial dengan pembiasaan nilai-nilai norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, dalam keluargalah pertama kali berlangsung proses memanusiakan manusia (humanisasi).
c.       Fungsi Proteksi (Perlindungan)
Dengan fungsi ini keluarga berfungsi sebagai tempat memperoleh rasa aman, nyaman, damai, dan tentram bagi seluruh anggota keluarga sehingga terpenuhi kebahagiaan batin. Sedangkan secara fisik keluarga harus melindungi anggotanya, memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan dan lain-lain.
d.      Fungsi Afeksi  (Perasaan)
Fugsi ini mendorong keluarga sebagai tempat untuk menumbuhkembangkan rasa cinta dan kasih sayang antara sesama anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya. Selain itu keluarga harus dapat menjalankan tugasnya menjadi lembaga interaksi dalam ikatan batin yang kuat antar anggotanya, sesuai dengan status peranan sosial masing-masing dalam kehidupan keluarga itu, ikatan batin yang dalam dan kuat ini harus dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga sebagai bentuk kasih sayang.
e.       Fungsi Ekonomi
Fungsi ini mendorong keluarga sebagai tempat pemenuhan kebutuhan ekonomi, fisik, dan materi yang sekaligus mendidik keluarga hidup efisien, ekonomis, dan rasional. Fungsi ekonomi meliputu pencarian nafkah, perencanaan serta pemanfaatan dan pembelajarannya.
f.       Fungsi Religius
Fungsi ini mendorong keluarga sebagai wahana pembangunan insan-insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral, berakhlak, dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan ajaran agamanya. Untuk melaksanakan fungsi ini keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak anak kepada kehidupan beragama dengan menciptakan iklim keluarga yang religius sehingga dapat dihayati oleh anggota keluargannya.
g.      Fungsi Rekreasi
Dalam menjalankan fungsi ini keluarga harus menjadi ligkungan yang nyaman, menyenangkan, cerah, ceria, hangat, dan penuh semangat. Keluarga harus menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua anggota keluarganya. Oleh karena itu, keluarga hendaknya mampu menciptakan suasana tersebut agar timbul keseimbangan pribadi dan keluarga dapat memberikan perasaan bebas terlepas dari kesibukan sehari-hari.

h.      Fungs Biologis
Fungsi ini diarahkan unuk mendorong keluarga sebagai wahana menyalurkan kebutuhan produksi sehat bagi semua anggota keluarganya. kebutuhan biologis merupakan fitrah manusia, melibatkan fisik untuk melangsungkan kehidupannya. Pelaksanaan fungsi ini tidak sendiri melainkan adanya keseimbangan dalam melaksanakan fungsi-fungsi lain seperti : fungsi religius, sosialisasi, proteksi, afeksi, dan rekreasi.

3.      Tujuan,  Isi, dan Penanggung Jawab Pendidikan dalam Keluarga
Sekalipun tidak ada tujuan pendidikan dalam keluarga secara tersurat, tetapi secara tersirat dipahami bahwa tujuan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik.
Adapun isi pendidikan dalam keluarga biasanya meliputi nilai agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan. Keluarga tidak memiliki kurikulum formal atau kurikulum tertulis.
Salah satu fungsi keluarga adalah pendidikan, dalam hal ini orangtua (ibu dan ayah) adalah pengemban tanggung jawab pedidikan anak. Secara kodrati orangtua bertanggung jawab atas pendidikan anak dan atas kasih sayangnya orangtua mendidik anak, selain orangtua saudara-saudaranya yang masih tinggal serumah pun akan turut bergaul dengan anak sehingga akan turut mempengaruhi bahkan mendidiknya.


4.      Karakteristik Lingkungan Pendidikan Informal (Keluarga)
a.       Tujuan pengembangannya lebih menekankan pada pengembangan karakter
b.    Peserta didiknya bersifat heterogen

B.     Sekolah  (Lingkungan Pendidikan Formal)
1.      Bentuk Sekolah
Sebagai lingkungan pendidikan formal sekolah dibagi atas tiga jenjang pendidikan yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang  pendidikan menengah. Dijalur pendidikan formal pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS). Jenjang pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan  (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Sedangkan pendidkan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas yang merupakan kelanjutan dari jenjang pendidikan menengah.

2.      Tujuan Pendidikan Sekolah
Sekolah mempunyai tujuan pendidkan sesuai dengan jenjang, bentuk dan jenisnya. Tujuan sekolah dapat ditemukan didalam kurikulum sekolah. Tujuan sekolah umumnya adalah memberikan bekal kemampuan kepada peserta didik dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, makhluk tuhan serta mempersiapkan peserta didik melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Pada jenjang menengah dan perguruan tinggi sekolah juga bertujuan untuk memberikan bekal kemempuan  untuk bekerja.
Untuk pendidikan dasar, sekolah bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sedangkan untuk pendidikan menengah sekolah bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, dan akhlak mulia, selain itu sekolah hendaknya berperan sebagai masyarakat belajar, yaitu masyarakat yang memiliki tata kehidupan yang mengatur hubungan antara guru dengan lingkungannya yang membelajarkan murid untuk mencapai tujuan pendidikan dalam suasana yang menggairahkan.

3.      Fungsi Sekolah
Sebagaimana fungsi pendidikan pada umumnya, sekolah memiliki fungsi konservasi dan fungsi inovasi. Fungsi konservasi yaitu upaya-upaya sekolah dalam rangka melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat, sedangkan fungsi inovasi adalah upaya-upaya sekolah dalam rangka melakukan pembaruan di dalam masyarakat.
Soleh Soegianto (Bambang Robadi. 2007) mengemukakan fungsi sekolah sebagai lembaga sosial yaitu:
a.       Sekolah berfungsi sebagai lembaga sosialisasi membantu anak-anak dalam mempelajari cara-cara hidup ditempat mereka dilahirkan
b.      Sekolah berfungsi untuk mentransmisi dan mentransformasi kebudayaan dan sekolah berfungsi menyeleksi murid untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

4.      Karakteristik Sekolah
a.       Secara faktual tujuan pendidikannya lebih menekankan pada pengembangan intelektual
b.      Peserta didik bersifat homogen
c.       Isi pendidikannya terprogram secara formal/kurikulum tertulis
d.      Terstruktur, berjenjang dan berkesinambungan
e.       Waktu pendidikan terjadwal secara ketat dan reatif lama
f.       Cara pelaksanaan bersifat formal
g.      Evaluasi pendidikan dilaksanakan secara sistematis

5.      GURU (Pendidik di Sekolah)
Dalam undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan menilai serta mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Guru sebagai npengganti  orang tua di sekolah harus memberi kemudahan dalam pembelajaran bagi semua anak didik agar mampu mengembangkan segala kemempuan dan potensi yang dimilikinya.
Guru sebagai pendidik ia harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.

C.    Masyarakat ( Lingkungan Pendidikan Non Formal )
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan pendidikan selain dari lingkungan pendidikan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak sudah mulai lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Namun orang tua tidak melepas begitu saja, mereka tetap mengontrol perkembangan atau pendidikan yang didapatkannya. Karena pengaruh yang lebih luas di banding dengan lingkungan pendidikan yang lain. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap, minat, maupun pembentukan kesusilaan, dan keagamaan
                                                                                                  
1.         Pengertian Masyarakat Serta Kaitannya Dengan Pendidikan
Masyarakat yaitu sekelompok orang yang berinteraksi antara sesamanya, saling bergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama. Pada umumnya bertempat tinggal di wilayah tertentu dan memiliki kepentingan bersama. Jenis masyarakat antara lain masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community).
Secara umum masyarakat mempunyai kesamaan, namun secara khusus masyarakat akan mempunyai perbedaan-perbedaan. Perbedaan ini mungkin berkenaan dengan hubungan sosialnya, karasteristik daerah tempat tinggalnya, dan nilai-nilai budayanya.
Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri seperti dikemukakan oleh Tirtarahardja dan La Sulo,yaitu antara lain:
a.    Ada interaksi antara warga – warganya
b.    Pola tingkah laku warga – warganya diatur oleh adat istiadat, norma – norma, hukum, dan aturan – aturan yang khas
c.    Ada rasa identitas yang kuat yang mengikat pada warganya. Kesatuan wilayah, adat istiadat, rasa identitas, dan loyalitas (kesetiaan) terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangsa sebagai patriotisme, kesetiakawanan sosial dll.

Kaitan antara masyarakat dengan pendiddikan  menurut Tirta Rahardja dan La Sulo ( 2000 ), dapat ditinjau dari tiga aspek, yaitu:
a.    Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan maupun yang tidak dilembagakan
b.    Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung ikut mempunyai peran dan fungsi  edukatif
c.    Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang di rancang maupun yang di manfaatkan. Perlu pula di ingat bahwa manusia dalam bekerja dan hidup sehari-hari akan selalu berupaya memperoleh manfaat dari pengalaman hidupnya itu untuk meningkatkan dirinya. Dengan kata lain, manusia berusaha mendidik dirinya sendiri dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia di masyarakat dalam bekerja, bergaul, dan sebagainya.

2.     Masyarakat Sebagai Lingkungan Pendidikan Non Formal
Di dalam lingkungan masyarakat setiap orang akan memperoleh pengalaman tentang berbagai hal. Misalnya tentang lingkungan alam, tentang hubungan sosial, politik, kebudayaan dan sebagainya.
Di dalam masyarakat setiap orang mempunyai status tertentu, mereka belajar tenteng nilai-nilai dan peranan-peranan yang seharusnya mereka lakukan. Setiap orang memperoleh pengalaman bergaul dengan anggota masyarakat lainnya di luar rumah dan di luar lingkungan sekolah.
Didalam lingkungan masyarakat setiap orang akan memperoleh pengaruh yang sifatnya mendidik dari orang-orang yang ada di sekitarnya, baik dari teman sebaya maupun orang dewasa melalui interaksi sosial secara langsung atau tatap muka. Pengaruh pendidikan tersebut dapat pula diperoleh melalui interaksi sosial secara tidak langsung. Contohnya melalui siaran televisi, buku-buku, koran, cerita, majalah dll. Selain itu dalam masyarakat terdapat berbagai lembaga seperti kursus, majelis taklim, pendidikan keterampilan, pendidikan kesetaraan, bimbingan tes yang turut berpartisipasi dalam melaksanakan pendidikan.

3.         Bentuk Ligkungan Pendididkan Non Formal
Pendiddikan non formal dapat terselenggara secara tidak terstruktur dan berjenjang, dapat pula diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang. Contoh penyelenggaraan pendidikan di dalam lingkungan pendidikan non formal yang terstruktur dan berjenjang antara lain kelompok belajar paket A, kelompok belajar paket B, kelompok belajar paket C, kursus komputer dan Bahasa Inggris. Adapun contoh penyelenggaraan pendidikan yang tidak terstruktur dan tidak berjenjang adalah ceramah keagamaan yang ditayangkan televisi, penyampaian informasi melalui koran, majalah, buku-buku.

4.         Tanggung Jawab dan Fungsi Lingkungan Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal selain menjadi tanggung jawab pemerintah juga menjadi tanggung jawab bersama para orang dewasa yang ada di lingkungan masyarakat yang bersangkutan.
Pendidikan dalam lingkungan masyarakat dapat berfungsi sebagai pengganti, pelengkap, penambah dan mungkin juga pengembang pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah.

5.         Karakteristik Lingkungan Pendidikan Non Formal
a.       Secara faktual tujuan pendidikannya lebih menekankan pada pengembangan keterampilan praktis
b.      Peserta didiknya bersifat Heterogen
c.       Isi pendiddikannya ada yang terprogram secara tertulis ada pula yang tidak terprogram secara tertulis
d.      Dapat terstruktur, berjenjang dan bersinambung dapat pula tidak terstruktur , tidak berjenjang dan tidak bersinambung
e.       Waktu pendidikan terjadwal secara ketat atau tidak terjadwal secara ketat dan lama pendidikanya relatif singkat
f.       Cara pelaksanaan pendidikan mungkin bersifat artificial mungkin pula bersifat wajar
g.      Evaluasi pendidikan mungkin dilaksanakan secara sistematis dapat pula tidak sistematis
h.      Credentials mungkin ada dan mungkin pula tidak ada

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi anak yang memberikan sumbangan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik dalam kehidupannya. Pendidikan dalam lingkungan keluarga dimulai sejak anak lahir ke dunia dari kandungan ibunya, dan berhenti apabila sang anak meninggalkan keluarga asal untuk mendirikan keluarga baru. Secara umum keluarga merupakan suatu lembaga yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak yang belum menikah, hidup dalam sebuah kesatuan kelompok berdasarkan ikatan tertentu. Demi perkembangan dan pendidikan anak, keluarga harus mempunyai atau melaksanakan fungsi-fungsinya dengan baik dan seimbang. M. I Soelaeman (1994) mengemukakan beberapa fungsi keluarga yaitu : fungsi edukasi, fungsi sosialisasi, fungsi proteksi (perlindungan), fungsi afeksi (perasaan), fungsi ekonomi, fungsi religious, fungsi rekreasi, dan fungsi biologis. Sekalipun tidak ada tujuan pendidikan dalam keluarga secara tersurat, tetapi secara tersirat dipahami bahwa tujuan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Adapun isi pendidikan dalam keluarga biasanya meliputi nilai agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan. Keluarga tidak memiliki kurikulum formal atau kurikulum tertulis.
Sebagai lingkungan pendidikan formal sekolah dibagi atas tiga jenjang pendidikan yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Sekolah mempunyai tujuan pendidkan sesuai dengan jenjang, bentuk dan jenisnya. Tujuan sekolah dapat ditemukan didalam kurikulum sekolah. Tujuan sekolah umumnya adalah memberikan bekal kemampuan kepada peserta didik dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, makhluk tuhan serta mempersiapkan peserta didik melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Pada jenjang menengah dan perguruan tinggi sekolah juga bertujuan untuk memberikan bekal kemempuan  untuk bekerja. Sebagaimana fungsi pendidikan pada umumnya, sekolah memiliki fungsi konservasi dan fungsi inovasi. Fungsi konservasi yaitu upaya-upaya sekolah dalam rangka melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat, sedangkan fungsi inovasi adalah upaya-upaya sekolah dalam rangka melakukan pembaruan di dalam masyarakat.
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan pendidikan selain dari lingkungan pendidikan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak sudah mulai lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Namun orang tua tidak melepas begitu saja, mereka tetap mengontrol perkembangan atau pendidikan yang didapatkannya. Karena pengaruh yang lebih luas di banding dengan lingkungan pendidikan yang lain. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap, minat, maupun pembentukan kesusilaan, dan keagamaan. Masyarakat yaitu sekelompok orang yang berinteraksi antara sesamanya, saling bergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama. Pada umumnya bertempat tinggal di wilayah tertentu dan memiliki kepentingan bersama. Jenis masyarakat antara lain masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Di dalam lingkungan masyarakat setiap orang akan memperoleh pengalaman tentang berbagai hal. Misalnya tentang lingkungan alam, tentang hubungan sosial, politik, kebudayaan dan sebagainya. Pendiddikan non formal dapat terselenggara secara tidak terstruktur dan berjenjang, dapat pula diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang. Contoh penyelenggaraan pendidikan di dalam lingkungan pendidikan non formal yang terstruktur dan berjenjang antara lain kelompok belajar paket A, kelompok belajar paket B, kelompok belajar paket C, kursus komputer dan Bahasa Inggris.

B.  Saran
Pendidikan sangat penting sekali bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Setiap anak wajib mendapatkan pendidikan baik pendidikan informal, pendidikan formal, maupun pendidikan non formal. Secara umum keluarga merupakan suatu lembaga yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak yang belum menikah. Ada beberapa fungsi dalam pendidikan informal (keluarga) yaitu : fungsi edukasi, fungsi sosialisasi, fungsi proteksi (perlindungan), fungsi afeksi (perasaan), fungsi ekonomi, fungsi religious, fungsi rekreasi, dan fungsi biologis. Sekalipun tidak ada tujuan pendidikan dalam keluarga secara tersurat tetapi secara secara tersirat dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap dalam beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Keluarga tidak memiliki kurikulum formal dan kurikulum tertulis.
Pendidikan formal dibagi menjadi tiga yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Sekolah mempunyai tujuan pendidikan sesuai dengan jenjang, bentuk dan jenisnya. Sekolah memiliki fungsi konservasi dan fungsi inovasi.

Qoute #13

Diposting oleh Unknown di 04.51 0 komentar

Selamat datang Juni aku berharap dapat melupakan Mei yang suram..
Semoga di bulan ini lebih baik lagi, amin :)

Sejarah Goa Sunyaragi

Diposting oleh Unknown di 04.39 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Sunyaragi adalah nama suatu Cagar Budaya Indonesia yang unik. Sunyaragi berlokasi di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon dimana terdapat bangunan mirip candi yang disebut sebagai Gua Sunyaragi atau Taman Air Sunyaragi atau sering disebut sebagai Tamansari Sunyaragi. Nama “Sunyaragi” berasal dari  kata “Sunya”  yang artinya sepi dan “Ragi” yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sansekerta. Tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

B.  Rumusan Masalah
Dikarenakan kajian masalah mengenai Sejarah Gua Sunyaragi ini sangat luas cakupannya, maka kami membatasinya dalam sebuah rumusan masalah dengan tujuan pembahasan yang dikaji tidak terlalu banyak bahasannya. Tetapi penulis ingin memaparkan pembahasannya secara rinci dengan kemampuan dari penulis sendiri
Adapun rumusan masalah tersebut adalah :
1.      Sejarah berdirinya Gua Sunyaragi
2.      Arsitektur Gua Sunyaragi
3.      Bangunan-bangunan yang ada di Gua Sunyaragi

C.  Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh penulis tentunya memiliki tujuan tersendiri sehingga mendorong penulis untuk melakukan penelitian tersebut. Adapun tujuan penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Untuk memenuhi tugas Mata Pelajaran IPS
2.      Untuk mengetahui Sejarah Gua Sunyaragi

BAB II
METODE PENELITIAN

A.  Rancangan Penelitian
Dalam merancang penelitian yang akan dilaksanakan, penulis menggunakan metode observasi dan wawancara dan Tanya jawab untuk memperoleh data yang dibutuhkan dari tempat penelitian. Adapun susunan kedua metode tersebut diuraikan sebagai berikut :
1.      Observasi
Dalam penelitian yang dilaksanakan, penulis menggunakan metode observasi, yakni dengan terjun langsung ke lapangan. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh lebih akurat karena berasal langsung dari narasumbernya. Observasi yang dilakukan penulis ini dilaksanakan pada :
Hari
: Senin
Tanggal
: 28 Mei 2012
Waktu
: 13. 00 WIB s/d selesai
Tempat
: Cirebon Jawa Barat

2.      Wawancara dan Tanya Jawab
Metode wawancara ini penulis gunakan untuk mendapatkan data secara langsung dari narasumber yang memang merupakan ahlinya dibidang Gua Sunyaragi. Yang menjadi narasumber dalam wawancara yang dilakukan penulis tersebut yaitu :
Semua pekerja yang ada di Gua Sunyaragi

BAB III
PEMBAHASAN

A.  Sejarah berdirinya Gua Sunyaragi
Sejarah berdirinya Gua Sunyaragi memiliki dua buah versi, yang pertama adalah berita lisan tentang sejarah berdirinya Gua Sunyaragi yang disampaikan secara turun-menurun oleh bangsawan Cirebon atau keturunan keraton. Versi tersebut lebih dikenal dengan sebutan versi Carub Kandha Versi yang kedua adalah versi Caruban Nagari yaitu berdasarkan buku “Purwaka Caruban Nagari” tulisan tangan.
Pangeran Kararangen tahun 1720. Namun sejarah berdirinya Gua Sunyaragi versi Caruban Nagari berdasarkan sumber tertulislah yang digunakan sebagai acuan para pemandu wisata Gua Sunyaragi yaitu tahun 1703 Masehi untuk menerangkan tentang sejarah Gua Sunyaragi karena sumber tertulis memiliki bukti yang kuat daripada sumber-sumber lisan. Kompleks Sunyaragi dilahirkan lewat proses yang teramat panjang. Tempat ini beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan. Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Gua Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh Pangeran Kararangen. Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon.
Namun menurut Caruban Kandha dan beberapa catatan dari Keraton Kesepuhan, Tamansari dibangun karena pesanggrahan “Giri Nur Sapta Rengga” berubah fungsi menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon, yang sekarang dikenal sebagai Astana Gunung Jati. Terutama dihubungkan dengan perluasan Keraton Pakungwati (sekarang Keraton Kasepuhan Cirebon) yang terjadi pada tahun 1529 M, dengan pembangunan tembok keliling keraton, Siti Inggil dan lain-lain. Sebagai data perbandingan, Siti Inggil dibangun dengan ditandai candra sengkala “Benteng Tinataan Bata” yang menunjuk angka 1529. Di kedua tempat itu juga terdapat persamaan, yakni terdapat gapura “Candi Bentar” yang sama besar bentuk dan penggarapannya. Pangeran Kararangem hanya membangun kompleks Gua Arga Jumut dan Mande Kemasan saja.

B.  Arsitektur Gua Sunyaragi
Gaya Indonesia klasik atau Hindu dapat dilihat pada beberapa bangunan berbentuk Joglo. Misalnya, pada bangunan Bale Kambang, Mande Beling dan Gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular. Seluruh ornamen bangunan yang ada menunjukan adanya suatu sinkretsime budaya yang kuat berasal dari berbagai dunia. Namun, umumnya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik dan Hindu.
Gaya Cina terlihat pada (ukiran) bunga seperti bentuk bunga persik, bunga matahari dan bunga teratai. Di beberapa tempat, dulu Gua Sunyaragi dihiasi berbagai ornamen keramik Cina dibagian luarnya. Keramik-keramik itu sudah lama hilang atau rusak sehingga tidak diketahui lagi coraknya yang pasti. Penempatan keramik-keramik pada bangunan Mande Beling serta motif mega mendung seperti pada kompleks bangunan Gua Arga Jumut memperlihatkan bahwa Gua Sunyaragi mendapatkan pengaruh gaya arsitektur Cina. Selain itu ada pula kuburan Cina, kuburan tersebut bukanlah kuburan dari seseorang keturunan Cina melainkan merupakan sejenis monumen yang berfungsi sebagai  tempat berdoa para keturunan pengiring-pengiring dan pengawal-pengawal Putri Cina yang bernama Ong Tien Nio atau Ratu Rara Sumanding yang merupakan istri dari Sunan Gunung jati.
Sebagai peninggalan keratin yang dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, Gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bargaya Islam atau Timur Tengah. Misalnya relung-relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap persholatan atau musholah, adanya beberapa tempat wudhu serta bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Hal tersebut menjelaskan bahwa gaya arsitektur Gua Sunyaragi juga mendapat pengaruh dari Timur Tengah atau Islam.
Gua Sunyaragi didirikan ada zaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Belanda atau Eropa turut mempengaruhi gaya arsitektur Gua Sunyaragi. Tanda tersebut dapat dilihat pada bentuk jendela yang terdapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga berputar pada Gua Arga Jumut dan bentuk Gedung Pesanggrahan.
Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks Gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat  terlihat dengan adanya tempat bertapa seperti pada Gua Padang Ati dan Gua Kelangenan, tempat sholat dan pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu, lorong yang menuju ke Arab atau Cina yang terletak di dalam kompleks Gua Arga Jumut dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks Gua Peteng. Di depan pintu masuk Gua Peteng terdapat Patung Perawan Sunti.
Menurut legenda masyarakat local, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah mendapatkan jodoh. Kesan sakral Nampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung Dewa Wisnu.
Pada tahun 1997 pengelolaan Gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak Keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik Gua Sunyaragi. Kurangnya biaya pemeliharaan menyebabkan lokasi wisata Gua Sunyaragi lama kelamaan makin terbengkalai.

C.  Upaya Pemugaran
Tahun 1852 taman ini sempat diperbaiki karena pada tahun 1787 sempat dirusak Belanda. Saat itu, taman ini menjadi benteng pertahanan. Tan Sam Cay seorang  arsitek Cina, konon diminta Sultan Adiwijaya untuk memperbaikinya. Namun, arsitek Cina itu ditangkap dan dibunuh karena dianggap telah membocorkan rahasia Gua Sunyaragi kepada Belanda. Karena itu, di kompleks Taman Sunyaragi juga terdapat patok tertulis “Kuburan Cina”.
Pemugaran Tamansari Gua Sunyaragi pernah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1937-1938. Pelaksanaannya diserahkan kepada seorang petugas Dinas Kebudayaan Semarang. Namanya Krisjman. Ia hanya memperkuat kontruksi aslinya dengan menambah tiang-tiang atau pilar bata penguat, terutama pada bagian atap lengkung. Namun terkadang ia juga menghilangkan bentuk aslinya, apabila dianggap membahayakan bangunan keseluruhan. Seperti terlihat di Gua Pengawal dan sayap kanan-kiri antara Gedung Jinem dan Mande Beling.
Pemugaran terakhir dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jendal Kebudayaan yang telah memugar Tamansari secara keseluruhan dari tahun 1976 hingga 1984. Sejak itu tak ada lagi aktivitas pemeliharaan yang serius pada kompleks ini.
Bangunan tua ini hingga kini masih ramai dikunjungi orang, karena letaknya persis di tepi jalan utama. Tempat parker lumayan luas, taman bagian depan mendapat sentuhan baru untuk istirahat para wisatawan. Terdapat juga panggung budaya yang digunakan untuk pementasan kesenian Cirebon. Namun keadaan panggung budaya yang digunakan tersebut kini kurang terurus, penuh dengan tanaman liar. Kolam di kompleks Tamansari pun kurang terurus dan airnya kotor.

D.  Denah Kompleks Gua Sunyaragi
Kompleks Tamansari Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua terbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar komplek bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa.
Induk seluruh gua bernama Gua Peteng (Gua Gelap) yang digunakan untuk bersemedi. Selain itu ada Gua Pande Kemasan yang khusus digunakan untuk bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat penyimpanannya. Pembekalan dan makanan prajurit disimpan di Gua Pawon. Gua Pengawal yang berada di bagian bawah untuk tempat berjaga para pengawal. Saat Sulta menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, akan tetapi kala Sultan beristirahat di Mande Beling. Sedang Gua Padang Ati (Hati Terang) khusus tempat bertapa para Sultan.

E.  Denah Gua Sunyaragi
Walaupun berubah-ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Tamasari Sunyaragi adalah taman tempat para pembesar keratin dan prajurit keratin bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan. Bagian-bagian terdiri dari 12 antara lain :
1.      Bangsal Jinem, tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih;
2.      Goa Pengawal, tempat berkumpul para pengawal sultan;
3.      Kompleks Mande Kemasan (sebagian hancur);
4.      Goa Pande Kemasang, tempat membuat senjata tajam;
5.      Goa Simanyang, tempat pos penjagaan;
6.      Goa Langse, tempat bersantai;
7.      Goa Peteng, tempat nyepi untuk kekebalan tubuh;
8.      Goa Arga Jumut, tempat orang penting keraton;
9.      Goa Padang Ati, tempat bersemedi;
10.  Goa Kelanggengan, tempat bersemedi agar langgeng jabatan;
11.  Goa Lawa, tempat khusus kelelawar;
12.  Goa Pawon, dapur penyimpanan makanan.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Sejarah berdirinya Gua Sunyaragi memiliki dua buah versi, yang pertama adalah berita lisan tentang sejarah berdirinya Gua Sunyaragi yang disampaikan secara turun-menurun oleh bangsawan Cirebon atau keturunan keraton. Versi tersebut lebih dikenal dengan sebutan versi Carub Kandha Versi yang kedua adalah versi Caruban Nagari yaitu berdasarkan buku “Purwaka Caruban Nagari” tulisan tangan.
Pangeran Kararangen tahun 1720. Namun sejarah berdirinya Gua Sunyaragi versi Caruban Nagari berdasarkan sumber tertulislah yang digunakan sebagai acuan para pemandu wisata Gua Sunyaragi yaitu tahun 1703 Masehi untuk menerangkan tentang sejarah Gua Sunyaragi karena sumber tertulis memiliki bukti yang kuat daripada sumber-sumber lisan. Kompleks Sunyaragi dilahirkan lewat proses yang teramat panjang. Tempat ini beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan. Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Gua Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh Pangeran Kararangen. Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon.










Anime

Diposting oleh Unknown di 04.30 0 komentar







 

Reni Ariningsih Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review