Kamis, 19 Januari 2012

Faktor Yang Mempengaruhi Anak Kembar

Diposting oleh Unknown di 06.22 0 komentar


A.  Pengertian Karakter dan Anak kembar
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk tetap hidup dan bekerja sama, baik dalam ruang lingkup keluarga, kelompok, masyarakat, bangsa dan bernegara. Individu berkarakter baik merupakan individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap – tiap akhibat dari keputusan yang ia buat.
Anak kembar adalah dua orang atau lebih yang lahir dari satu masa kehamilan yang sama. Jenis kelamin anak kembar  ini bisa sama tapi bisa juga berbeda. Keluarga yang memiliki anak kembar pada umumnya mempunyai peluang yang lebih besar untuk memilki anak kembar pada generasi berikutnya, dibandingkan keluarga yang tidak memiliki anak kembar.
Secara umum anak kembar memiliki banyak kesamaan, baik secara fisik maupun sifat psikologis. Kesamaan – kesamaan yang dimiliki oleh anak kembar ini, yang membuat anak kembar ini terlihat lebih unik dibandingkan dengan individu – individu lainnya. Kesamaan yang dialami oleh anak kembar cenderung disebabkan oleh dua hal, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik menyebabkan anak kembar mempunyai kesamaan dalam segi fisik, misalnya kesamaan dalam tinggi badan, bentuk muka, bentuk tubuh hingga sampai ke warna kulit. Kesamaan lain yang dimiliki anak kembar, selain kesamaan secara fisik. Yaitu mempunyai kecenderungan yang sama dalam sifat psikologis. Kesamaan sifat psikologis ini meliputi kesamaan dalam berkarakter, tempramen maupun kedekatan secara emosional atau disebut juga dengan kontak bathin. Kesamaan karakter maupun kontak bathin ini yang sering dirasakan anak kembar yang disebabkan faktor lingkungan. Orang tua memberikan pola asuh yang sama pada kedua anak kembar yang dimiliki.
Pada awalnya hal ini dilakukan untuk memudahkan para orang tua dalam mengasuh anak kembar, tapi yang terjadi kemudian anak kembar menjadi mempunyai kemiripan dalam berkarakter. Kemampuan anak kembar dalam merespon tingkah laku ataupun bahasa non verbal dari kembarannya, selain disebabkan karena anak kembar tumbuh dan kembang secara bersamaan. Perilaku pertama yang dilakukan oleh salah satu kembarannya, secara tidak langsung akan diikuti oleh kembarannya. Ini yang menjadi anak kembar terlihat sangat sensitif dan lebih tepat merespon tingkah laku kembarannya. Respon yang diberikan itu misalnya apabila salah satu anak kembar sakit makan yang lain juga akan merasakan rasa sakit itu. Bila salah satu anak kembar merasakan sedih, maka yang lain juga akan merasakan kesedihan yang sama tanpa tahu penyebab dari kesedihan tersebut.
Interaksi yang terjadi antara genetik dan lingkungan juga dapat bekerja sebaliknya, maksudnya genetik dan lingkungan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Apabila salah satu di antaranya tidak berjalan sesuai maka anak kembar tersebut juga akan merasakan perbedaan diantara keduanya. Mereka merasa bukan anak kembar. Anak yang secara genetik serupa, sering kali berkembang secara berbeda tergantung lingkungannya, apalagi lingkungan pesantren dan non pesantren. Akan terlihat jelas perbedaannya karena faktor lingkungan yang berbeda pula. Gen dapat mempengaruhi bagaimana anak – anak membuat orang tua untuk lebih beraksi secara berbeda, memunculkan perilaku yang berbeda dan gen juga dapat mempengaruhi bagaimana anak – anak mengartikan arti perbedaan dirinya dengan saudara kembarnya. Melakukan respon terhadap perlakuan tersebut dan hasil yang didapatkannya. Anak kembar juga membentuk lingkungannya sendiri dengan pilihan yang dia ambil dan struktur genetik sangat mempengaruhi pilihan – pilihan ini. Lingkungan juga merupakan tempat dimana anak – anak tumbuh dan berkembang. Anak kembar juga tidak akan selamanya menjadi anak – anak karena fisik dan emosi yang dimiliki oleh anak kembar akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertambahan usia anak kembar tersebut. Pada saat anak kembar tumbuh menjadi dewasa, secara fisik anak kembar akan tetap memiliki kesamaan. Tapi, secara psikologis perbedaan – perbedaan yang dimiliki juga akan semakin tampak. Pada saat anak kembar tumbuh memasuki masa – masa kedewasaannya akan terlihat sangat jelas kekurangan dam kelebihan yang dimiliki masing – masing pribadi anak kembar tersebut.

B.   Aliran – aliran  yang berpendapat tentang Nativisme, Empirisme dan Konvergensi
Pada awalnya setiap individu memiliki karakter yang berbeda, meskipun mereka anak kembar. Secara fisik anak kembar memiliki kesamaan dalam bentuk muka, tinggi badan, bentuk tubuh sampai warna kulit. Tetapi secara  psikologis bukan berarti mereka juga harus sama, karena suatu karakter itu tidak dalam jumlah keseluruhan tapi hanya sepaket. Misalkan anak A dan anak B, secara fisik mereka sama, mirip identik.  Tapi dari segi lain jelas akan berbeda anak A lebih menyukai warna biru sedangkan anak B lebih menyukai warna merah. Berbeda pula dengan hobi – hobinya, cara memandang suatu masalah dan apa saja yang ia inginkan. Meski mereka dilahirkan dari satu kelurga orang tua yang sama. Kembar itulah kembar tetap saja memiliki perbedaan meski tinggal ditepat yang sama, apalagi ditempat yang berbeda. Perbedaan itu akan jelas terlihat.

Aliran – aliran  yang berpendapat tentang anak kembar :
1.    Nativisme ( Pembawaan / Keluarga )
Pembawaan adalah potensi – potensi yang dibawa setiap individu ketika lahir yang merupakan warisan dari kedua orang tuanya. Para ahli yang beraliran Nativisme berpendapat bahwa perkembangan dan pertumbuhan setiap individu itu semata – mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Anak kembar juga merupakan  individu yang tidak lepas dari unsur bawaan dari orang tuanya. Nativisme adalah perkembangan atau pertumbuhan yang dipengaruhi oleh faktor keluarga atau pembawaan.
Aliran Nativisme dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1778 – 1860 ) yang berasal dari Jerman. Beliau mengatakan individu yang apabila karakter keluarganya orang baik  maka karater anak – anaknya juga akan baik dan apabila karakter keluarganya jelek maka karakter anak – anaknya juga akan jelek pula. Jadi walaupun seorang anak itu anak premen dan dia hidup di lingkungan pesantren ia akan tetap memiliki sifat kepremanannya, meski yang diterapkan tidak menyeluruh artinya hanya sebagian. Istilah yang tepat untuk aliran ini “ Tidak ada emas yang menjadi perak ”.
Begitu pula dengan anak kembar, tidak selamanya anak kembar akan menjadi anak – anak. Mereka akan tumbuh dan berkembang di satu lingkungan yang mungkin akan berbeda, mereka akan menanamkan nilai – nilai yang pernah mereka pelajari sejak kecil dan tidak akan merubahnya meskipun mereka tinggal terpisah.

2.    Empirisme ( Lingkungan )
Lingkungan sering diartikan orang secara sempit dengan alam sekitar. Dalam psikologi lingkungan dapat diartikan dalam arti luas yaitu yang mencakup lingkungan yang ada di dalam dan di luar individu. Lingkungan adalah segala sesuatu yang di luar diri anak yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak tersebut. Sedangkan empirisme adalah perkembangan dan pertumbuhan yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Faktor lingkungan juga sering diartikan sebagai faktor ajar. Dengan demikian, lingkungan dapat memperkenalkan anak kepada benda – benda, orang – orang, tempat bersejarah, keadaan dan peristiwa yang ada disekitar lingkungan anak. Yang biasanya memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Di samping lingkungan itu memberikan kesempatan kepada kemungkinan – kemungkinan sifat bawaan pada anak itu akan berkembang. Yang kemudian lama – lama sifat bawaan  itu akan terkikis dengan sendirinya. Sifat bawaan adalah sifat yang diturunkan pada keluarga, yang apabila dalam keluarga itu karakter orang tuanya baik maka anaknya juga baik. Begitu sebaliknya.
Aliran empirisme dipelopori oleh Jhon Locke ( 1632 – 1704 ). Beliau mengatakan lingkungan sangat berpengaruh besar ketimbang sifat bawaan pada seorang anak. Karena sedikit demi sedikit sifat bawaan tersebut akan terkikis ketika seorang anak tersebut berpisah dengan keluarganya.

3.    Konvergensi
Konvergensi adalah perkembangan dan pertumbuhan yang dipengaruhi oleh faktor keluarga dan lingkungan. Aliran ini berpendapat, bahwa di dalam perkembangan dan pertumbuhan setiap individu itu baik dasar atau bawaan ( keluarga ) ataupun lingkungan samuanya mengambil peranan yang sanagt penting. Fakta yang menunjukkan bahwa warisan karakter bawaan yang baik saja tanpa ada pengaruh dari faktor lingkungan yang tidak baik, tidak  dapat membina keperibadian yang baik ideal. Bakat merupakan sebagai kemungkinan telah ada pada masing – masing individu, akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu suatu pengembangan dari tiap – tiap individu tersebut. Misalnya : Tiap manusia yang normal memilki bakat untuk tegak atas kedua kaki; bakat ini tidak akan aktual ( menjadi kenyataan ) apabila anak manusia itu tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia. Anak yang semenjak kecilnya diasuh oleh monyet maka ia tidak dapat berdiri tegak di atas kakinya; mungkin dia akan berjalan di atas tangan dan kedua kakinya ( berjalan seperti monyet ). Ini salah satu contoh dari aliran konvergensi.


C.  Pengaruh aliran – aliran  Nativisme, Empirisme dan Konvergensi pada Perkembangan karakter Anak kembar

Setiap manusia yang ada di dunia ini memiliki karakter yang berbeda meskipun mereka anak kembar dan dilahirkan pada satu keluarga ( orang tua ) yang sama. Tetapi tidak menutup kemungkinan sifat dan sikap mereka berbeda. Pada dasar anak kembar adalah dua orang anak atau lebih yang lahir dari satu masa kehamilan yang sama. Jenis kelamin dari anak kembar tersebut bisa sama dan bisa juga berbeda. Secara umum anak kembar memiliki banyak kesamaan, baik secara fisik maupun secara psikologis. Kesamaan yang dimiliki anak kembar dalam segi fisik dapat terlihat dari bentuk muka, bentuk tubuh, tinggi badan hingga sampai pada warna kulit. Kesamaan ini akan terlihat jelas pada setiap anak kembar.

Individu memiliki karakter yang berbeda, sekalipun mereka kembar. Anak kembar yang apabila di keluarga didik baik belum tentu juga dia akan baik. Karena pada dasarnya sifat bawaan tidak akan selamanya ada pada karakter anak tersebut. Semakin tumbuh anak semakin hilang juga sifat – sufat bawaannya ( keluarga ). Begitu pula anak kembar, tidak selamaya kembar akan menjadi anak – anak, mereka pun sama kaya seperti individu yang lain yang hidup normal. Anak kembar yang di pisahkan akan jelas berbeda, perbedaan itu sangat tampak terjelas dari beberapa segi. Sebagai penjabaran adalah sebagai berikut :
a.        Segi beribadah
Anak kembar yang tinggal di lingkungan pesantren dalam segi beribadah  dia berkualitas sangat baik dibandingkan dengan anak kembar yang tinggal di lingkungan non pesantren. Karena anak kembar yang tinggal di lingkungan pesantren dia benar – benar di didik tentang keagamaan, tentang hidup yang mandiri, sholat tepat waktu dan berbagai ibadah lainnya yang mengacu untuk kesehariannya.
b.        Segi berbicara
Anak kembar yang tinggal di lingkungan pesantren dalam segi berbicara dia sopan santun, bukan hanya terhadap teman sebaya dan orang yang lebih tua darinya. Tetapi pada anak kecilpun dia akan sopan. Sedangkan anak yang tinggal di lingkungan non pesantren biasa nya hanya pada orang tua saja dia bersopan santun
c.         Segi berpakaian
Anak yang tinggal di lingkungan pesantren dalam segi berpakaian dia akan terlihat sopan rapi dan selalu menutup auratnya dalam kesehariannya. Sedangkan anak yang tinggal di lingkungan non pesantren dia lebih modis dan jarang sekali menutup auratnya ( memakai jilbab )
d.        Segi berpikir
Anak yang tinggal di lingkungan pesantren dalam segi berpikir dia berpikir secara rasional, artinya dia tidak hanya menerima satu alas an dari sebuah masalah. Dia akan menimbang memilih mana yang baik dan mana yang benar. Sedangkan anak yang tinggal di lingkungan non pesantren cara berpikir cepat tidak rasional dan egois. Mau dimengerti tapi tidak mau mengerti.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakter anak itu ditentukan dari faktor  lingkungan ( empirisme ). Meskipun mereka kembar tetapi apabila mereka dipisahkan di lingkungan yang berbeda. Mereke pun akan berbea dari beberapa segi. Perbedaan – perbedaan itu sangat jelas sekali. Pada dasarnya orang tua memberikan asupan yang sama tapi anak kembar tersebut tidak semuanya dalam mengimplementasikan  asupan – asupan tersebut dengan baik dan sama. Karena implementasi ini yang akan menentukan mereka untuk membina sebuah harapan yang masih bersifat abstrak.

Kamis, 13 Oktober 2011

Tugas dan Kedudukan Manusia

Diposting oleh Unknown di 20.28 0 komentar


Manusia diturunkan ke dunia ini bukannya tanpa peran. Manusia sesungguhnya
mempunyai kedudukan dan tugas yang telah melekat padanya, yang terbawa sejak dia
dilahirkan di muka bumi ini.

Kedudukan manusia yang pertama adalah sebagai Abdullah, yang artinya adalah
sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah maka manusia harus menuruti kemauan
Allah, yang tidak boleh membangkang pada-Nya. Jika kita membangkang maka kita
akan terkena konsekwensi yang sangat berat. Kita adalah budak Allah, karenanya
setiap perilaku kita harus direstui oleh-Nya, harus menyenangkan-Nya, harus
mengagungkan-Nya. Kita ini memang budak dihadapan Allah, namun dengan inilah
kita menjadi mulia, kita menjadi mempunyai harga diri, kita menjadi mempunyai
jiwa, kita menjadi mempunyai hati, kita menjadi mempunyai harapan cerah yang
akan diberikan Tuhan kita, karena ketaatan kita itu.

Dengan kedudukan ini, maka Manusia mempunyai dua tugas, pertama, ia harus
beribadah kepada Allah baik dalam pengertian sempit maupun luas. Beribadah dalam
arti sempit artinya mengerjakan Ibadah secara ritual saja, seperti, Sholat,
puasa, haji, dan sebagainya. Sedangkan ibadah dalam arti luas adalah
melaksanakan semua aktifitas baik dalam hubungan dengan secara vertikal kepada
Allah SWT maupun bermuamalah dengan sesama manusia untuk memperoleh keridoan
Allah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan Hadist. Dan tentunya dari
makna ibadah dalam arti luas ini akan terpancarkan pribadi seorang muslim
sejati dimana seorang muslim yang mengerjakan kelima rukun Islam maka akan bisa
memberikan warna yang baik dalam bermuamalah dengan sesama manusia dan banyak
memberikan manfaat selama bermuamalah itu. Disamping itu segala aktifitas yang
kita lakukan baik itu aktifitas ibadah maupun aktifitas keseharian kita
dimanapun berada di rumah, di kampus di jalan dan dimanapun haruslah hanya
dengan niat yang baik dan lillahi ta'ala, tanpa ada motivasi lain selain ALLAH,
sebagai misal beribadah dan bersedekah hanya ingin dipuji oleh orang dengan
sebutan �galim dan dermawan�h; ingin mendapatkan pujian dari orang
lain; ingin mendapatkan kemudahan dan fasilitas dari atasan selama bekerja dan
studi dengan menghalalkan segala cara dan lain sebagainya. Sekali lagi jika
segala aktifitas bedasarkan niatnya karena Allah, dan dilakukan dengan peraturan
yang Allah turunkan maka hal ini disebut sebagai ibadah yang sesungguhnya. Di
dalam Adz Dzariyat 56: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk
beribadah kepada-Ku."


Kita beribadah kepada Allah bukan berarti Allah butuh kepada kita, Allah sama
sekali tidak membutuhkan kita. Bagi Allah walaupun semua orang di dunia ini
menyembah-Nya, melakukan sujud pada-Nya, taat pada-Nya, tidaklah hal tersebut
semakin menyebabkan meningkatnya kekuasaan Allah. Demikian juga sebaliknya jika
semua orang menentang Allah, maka hal ini tak akan mengurangi sedikitpun
kekuasaan Allah. Jadi sebenarnya yang membutuhkan Allah ini adalah kita, yang
tergantung kepada Allah ini adalah kita, yang seharusnya mengemis minta belas
kasihan Allah ini adalah kita. Yang seharusnya menjadi hamba yang baik ini
adalah kita. Allah memerintahkan supaya kita beribadah ini sebenarnya adalah
untuk kepentingan kita sendiri, sebagai tanda terimakasih kepada-Nya, atas
nikmat yang diberikan-Nya, agar kita menjadi orang yang bertaqwa, Allah SWT
berfirman: �gHai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa�h [2 : 21]

Dan satu hal penting yang harus dicatat adalah bahwa beribadah hanyalah kepada
Allah saja, menggantungkan hidup ini hanyalah kepada-Nya saja. Dunia ini adalah
instrumen semata, yang akan berperan sebagai bahan ujian dari-Nya. Karenanya,
dalam beribadah, janganlah menduakan Allah, karena hanya Allahlah satu-satunya
dzat yang harus kita sembah dan ibadahi.

Ingatkah kita akan apa yang wajib kita ucapkan minimal 17 kali sehari, dalam
shalat-shalat kita, Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, hanya kepada Allah lah
kami menyembah, dan hanya kepada Allah lah kami minta pertolongan. Tiada yang
lain. Karenanya, Allah tiada mengampuni jika kita mensekutukannya, menduakannya
dengan yang lain. Hanya berbuat karena Allah, dan hanya meminta
pertolongan kepada Allah lah yang membuat kita aman dari murkanya, dan akan
mendapatkan rahmat-Nya

Tugas kedua manusia adalah sebagai Kalifatullahi, kalifah Allah. Segala sesuatu
yang ada di dunia ini telah ditaklukkan Allah bagi manusia, Hewan, tumbuhan,
binatang, bumi dengan segala apa yang terpendam di dalamnya. Allah memberikan
gambaran tentang diberikannya tugas khalifah ketika berdialog dengan malaikat,
dalam Q.S 2:30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada
para Malaikat:'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi.' Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan
berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'

Jika tugas manusia adalah sebagai seorang pemimpin, tentu ia harus dapat
membangun dunia ini dengan sinergis, dapat melakukan perbaikan-perbaikan, baik
antara dirinya dengan alam, maupun antar sesama itu sendiri. Karakter sebagai
seorang pemimpin ini tidak dengan serta merta tumbuh dengan sendirinya, hal ini
harus dimulai dari tanggung jawab yang kecil mulai dari diri sendiri menuju
lingkup yang agak luas sebagai pemimpin rumah tanggga, kemudian menuju yang
lebih luas lagi pada sebuah komunitas masyarakat yang dipimpinnya, hingga
akhirnya menuju tanggung jawab dalam lingkup yang lebih luas lagi. Semestinya
kita melakukan instropeksi kedalam diri kita, apakah saat kita mendapatkan
tanggung jawab sebagai pimpinan apapun, kita telah menjalankan amanat yang
diberikan itu dengan sebaik-baiknya? Apakah jika kita tidak menjalankan setiap
amanat yang kita terima itu dengan baik kita bisa menyebut diri kita itu sebagai
kalifah? Tentunya tidak bukan. Oleh karena itu diri kita perlu selalu
diasah untuk lebih peka lagi, lebih peduli lagi terhadap lingkungan sekitar
kita dalam membantu sesama, bersinergi dalam segala aktifitas, peka dan ringan
tangan dalam membantu orang lain baik yang kita pimpin maupun saat kita berada
dalam posisi dipimpin oleh orang lain. Tanpa kepekaan dan pengasahan diri sejak
awal serta menggali pengalaman sebagai seorang pemimpin yang sesugguhnya maka
akan sangat jauhlah diri kita dengan sebutan �gKalifah di muka
bumi�h, ini seperti halnya �gsipunguk merindukan bulan�h,
tanpa berbuat sesuatu namun mengharapkan sesuatu yang besar.

Seorang pemimpin dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya, kemampuan untuk
mengolah dan mengeksplorasi alam, maka sebenarnya ia tak boleh semena-mena
terhadap
alam dan sesama manusia yang dipimpinnya, ia harus mengelolanya dengan baik dan
harus amanah dan memberikan suri tauladan yang baik. Kepemimpinan manusia ini
sebenarnya merupakan bagian dari ujian Allah, yang barangsiapa dapat
melakukannya dengan baik, maka luluslah ia. "Dan Dia lah yang menjadikan kamu
penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian
[yang lain] beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya
kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." [6:165]

Lalu manusia ada yang menyadari tentang misi kenapa ia harus berada di dunia,
lalu ia memanfaatkan fungsi kepemimpinannya dengan sebaik-baiknya, akan tetapi
tidak sedikit pula yang akhirnya ingkar dan tidak mau menyadari untuk apa ia di
turunkan di dunia ini, hingga akhirnya kerugianlah
yang akan didapatkannya "Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka
bumi. Barang-siapa yang kafir, maka [akibat] kekafirannya menimpa dirinya
sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan
menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu
tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka." [35:39].

Akan tetapi jika fungsi kekalifahan di bumi yang diberikan Allah dapat
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka begitu besar keberuntungan yang akan
diperolehnya, sebagaimana yang dilakukan nabi Saleh kepada umatnya "Dan kepada
Tsamud [Kami utus] saudara mereka Shaleh. Shaeh berkata: 'Hai kaumku, sembahlah
Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu
dari bumi [tanah] dan menjadikan kamu pemakmurnya , karena itu mohonlah
ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat
[rahmat-Nya] lagi memperkenankan [do'a hamba-Nya].' [11:61]


Maka hendaknya kita berhati-hati, akan amanah yang telah diberikan Allah kepada
kita, karena sebenarnya setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan
dimintai pertanggungjawabannya masing-masing di sisi Allah.
Ayat-ayat al-Qur’an tentang Kedudukan Manusia

A. QS Al Baqarah [2] : 30 tentang Kedudukan Manusia sebagai Khalifah di Atas Bumi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfIMMJR0HzEVndEIu1kvfV2YAtmM8Uby5Qe69GZju8ZYM6r1BvOsv2yJW5sEwbSja8zup9Q7xcU__90adAeumXl0QMZUR2mp5i6h8K76ElLCWmcoD3FPIsHhTujLhDJMPJ8OyNMxxTDfq9/s320/al-baqarah30.jpg

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah : 30)
Kandungan ayat
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi kalifah di muka bumi tersebut. Khalifah ialah manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya.
B. QS Al Mukminun [23]: 12-14 tentang Proses Penciptaan Manusia
 

Reni Ariningsih Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review