Sabtu, 19 Mei 2012
Kamis, 17 Mei 2012
Filsafat Pendidikan Pancasila
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Ajaran filsafat yang komprehensif telah
menduduki status tinggi dalam kebudayaan manusia, yakni sebagai ideologi bangsa
dan negara. Seluruh aspek kehidupan suatu bangsa diilhami dan berpedoman
ajara-ajaran filsafat. Dengan demikian, kehidupan sosial, politik, ekonomi,
pendidikan dan kebudayaan, bahkan kesadaran atas nilai-nilai hukum dan moral
bersumber dari ajaran filsafat.
Manusia sebagai individu, sebagai
masyarakat, sebagai bangsa dan negara, hidup dalam ruang sosial-budaya.
Aktivitas pewarisan dan pengembangan sosial budaya itu tidak lain melalui
pendidikan. Dan untuk menjamin pendidikan itu benar dengan proses yang efektif,
dibutuhkan landasan-landasan filosofis dan ilmiah sebagai asas normatif dan
pedoman pelaksanaan pembinaan.
Pancasila dalam pendekatan filsafat
merupakan ilmu pengetahuan yang mendalam mengenai pancasila. Filsafat Pancasila
dapat didefinisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang
Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Indonesia. Untuk mendapatkan
pengertian yang mendalam dan berangkat dari sila-sila tersebut kita cari
intinya, hakekat dari inti dan selanjutnya pokok-pokok yang terkandung di
dalamnya.
B.
Rumusan
Masalah
Dari
latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimana
pancasila sebagai filsafat hidup bangsa ?
2. Bagaimana
pancasila sebagai filsafat pendidikan nasional ?
3. Bagaimana
Hubungan pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan ?
4. Bagaimana filsafat pendidikan dalam tinjauan
Trilogi ilmu pengetahuan ?
C.
Tujuan
Masalah
Dari
rumusan masalah di atas, maka tujuannya untuk :
1. Mengetahui
pancasila sebagai filsafat hidup bangsa
2. Mengetahui
pancasila sebagai filsafat pendidikan nasional
3. Mengetahui
Hubungan pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan
4. Mengetahui
filsafat pendidikan dalam tinjauan Trilogi ilmu pengetahuan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pancasila
sebagai Filsafat Hidup Bangsa
Sangatlah wajar kalu Pancasila dikatakan
sebagai filsafat hiup bangsa karena menurut Muhammad Noor Syam (1983: 346),
nilai-nilai dasar dalam sosio budaya Indonesia hidup dan berkembang sejak awal
peradabannya, yang meliputi:
1. Kesadaran
ketuhanan dan kesadaran keagamaan secara sederhana.
2. Kesadaran
kekeluargaan, di mana cinta dan keluarga sebagai dasar dan kodrat terbentuknya
masyarakat dan sinambungnya generasi.
3. Kesadaran
musyaawarah mufakat dalam menetapkan kehendak bersama.
4. Kesadaran
gotong royong, tolong-menolong.
5. Kesadaran
tenggang rasa, atau tepo seliro,
sebagai semangat kekeluargaan dan kebersamaan, hormat demi keutuhan, kerukunan
dan kekeluargaan dalam kebersamaan.
Itulah yang termaktub dalam Pancasila
dengan 36 butir-butirnya. Dengan begitu, pada dasarnya masyarakat Indonesia
telah melaksanakan Pancasila, walaupun sifatnya masih merupakan kebudayaan.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut sudah beradab lamanya
mengakar pada kehidupan bangsa Indonesia, karena itu Pancasila dijadikan
sebagai falsafah hidup bangsa.
B.
Pancasila
sebagai Filsafat Pendidikan Nasional
Jika pendidikan suatu bangsa akan secara
otomatis mengikuti ideologi bangsa yang dianut, karenanya sistem pendidikan
nasional Indonesia dijiwai, didasari dan mencerminkan identitas Pancasila.
Sementara cita dan karsa bangsa kita, tujuan nasional dan hasrat luhur rakyat
Indonesia, tersimpul dalam pembukaan UUD 1945 sebagai perwujudan jiwa dan nilai
Pancasila. Cita dan karsa itu dilembagakan dalam sistem pendidikan nasional
yang bertumpu dan dijiwai oleh suatu keyakinan, dan pandangan hidup Pancasila.
Inilah alasan mengapa filsafat pendidikan Pancasila merupakan tuntutan
nasional, sedangkan filsafat pendidikan Pancasila adalah subsistem dari sistem
negara Pancasila. Dengan kata lain, sistem negara Pancasila wajar tercermin dan
dilaksanakan di dalam berbagai subsistem kehidupan bangsa dan masyarakat.
Dengan demikian, jelaslah tidak mungkin
Sistem Pendidikan Nasional dijiwai dan didasari oleh sistem filsafat pendidikan
yang selain Pancasila. Hal ini tercermin dalam tujuan Pendidikan Nasional yang
termuat dalam UU No. 2 Tahun 1989 dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, yakni: pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani, kepribadian yang mantap
dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan.
C.
Hubungan
Pancasila dengan Sistem Pendidikan Ditinjau dari Filsafat Pendidikan
Pancasila adalah dasar negara Indonesia
di mana fungsi utamanya sebagi pandangan hidup dan kepribadian bangsa
(Dardodiharjo, 1988: 17). Memegang fungsi dalam hidup dan kehidupan bangsa dan
negara Indonesia, Pancasila tidak saja sebagai dasar negara RI, tapi juga alat
pemersatu bangsa, kepribadian bangsa, pandangan hidup bangsa, sumber ilmu
pengetahuan di Indonesia (Azis, 1984: 70). Sehingga dapat kita ketahui bahwa
Pancasila merupakan dasar negara yang membedakannya dengan bangsa yang lain.
Filsafat adalah berpikir secara mendalam
dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran sesuatu. Sementara filsafat
pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang kependidikan. Bila kita
hubungkan fungsi Pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat
pendidikan, maka dapat kita jabarkan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup
bangsa yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari. Dan untuk
menerapkan sila-sila Pancasila, diperlukan pemikiran yang sungguh-sungguh
mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila itu dapat dilaksanakan. Dalam hal ini,
tentunya pendidikanlah yang berperan utama.
D.
Filsafat
Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Trilogi Ilmu Pengetahuan
1.
Ontologi
Ontologi
adalah bagian dari filsafat yang menyelidiki tentang hakikat yang ada. Menurut
Muhammad Noor Syam (1984: 24), ontologi kadang-kadang disamakan dengan
metafisika, sebelum manusia menyelidiki yang lain, manusia berusaha mengerti
hakikat sesuatu. Manusia dalam interaksinya dengan semesta raya, melahirkan
pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti apakah sesungguhnya realita yang ada
itu. Jadi, ontologi adalah cabang dari filsafat yang persoalan pokoknya apakah
kenyataan atau realita itu. Rumusan-rumusan tersebut identik dengan
membicarakan tentang hakikat ada. Hakikat ada dapat berarti segala sesuatu yang
ada, menunujuk kepada hal umum (abstrak umum universal). (Sutrisno, 1984: 82).Dalam
kenyataanya, Pancasila dapat dilihat dari penghayatan dan pengamalan kehidupan
sehari-hari. Dan bila dijabarkan menurut sila-sila dari Pancasila itu adalah
sebagai berikut:
a.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama ini
menjiwai sila-sila yang lainnya. Di dalam sistem Pendidikan Nasional dijelaskan
bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa
Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dengan sila pertama ini,
kita diharapkan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang juga merupakan bagian
dari sistem pendidikan nasional.
b.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Manusia yang ada di
muka bumi ini mempunyai harkat dan martabat yang sama, yang diperlakukan sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila dan fitrahnya sebagai hamba Allah (Darmodiharjo,
1988: 40)
Pendidikan tidak
membedakan usia, agama dan tingkat sosial budaya dalam menuntut ilmu. Setiap
manusia mempunyaai kebebasan dalam hal menuntut ilmu, mendapat perlakuan yang
sama, kecuali tingkat ketakwaan seseorang. Dan oleh karena yang dibangun adalah
masyarakat Pancasila, maka pendidikan harus dijiwai Pancasila sehingga akan
melahirkan masyarakat yang susila, bertanggung jawab, adil dan makmur, baik
spiritual maupun materiil dan berjiwa Pancasila. Dengan demikian, sekolah harus
mencerminkan sila-sila dari Pancasila.
c.
Sila Persatuan Indonesia
Persatuan merupakan
kunci kemenangan. Dengan persatuan yang kuat kita dapat menikmati alam
kemerdekaan. Sila ketiga ini tidak membatasi golongan dalam belajar. ini
berarti, bahwa semua golongan dapat menerima pendidikan, baik dari golongan
rendah maupun golongan yang tinggi, tergantung kepada kemampuannya untuk
berpikir, sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1.
d.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Sila keempat ini sering
dikaitkan dengan kehidupan berdemokrasi. Dalam hal ini, demokrasi sering juga
diartikan sebagai kekuasaan ada di tangan rakyat. sebagai contoh, dalam memilih
seorang pemimpin di desa, lembaga untuk menyalurkan kehendak untuk kepentingan
bersama melalui musyawarah (Djamal, 1986: 82). Bila dilihat dari dunia
pendidikan, maka hal ini sangat relevan, karena menghargai pendapat orang lain
demi kemajuan. Di samping itu, juga sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28 yang
menyatakan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, baik secara lisan maupun
tulisan. Jadi, dalam menyusun tujuan pendidikan, diperlukan ide-ide dari orang
lain demi kemajuan pendidikan.
e.
Sila Keadilan Sosial bagi Rakyat
Indonesia
Setiap bangsa di dunia
bertujuan untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Keadilan ini meliputi
kebutuhan di bidang materiil dan di bidang spiritual yang didasarkan pada asas
kekeluargaan.
2.
Epistemologi
Epistemologi
adalah studi tentang pengetahuan (adanya) benda-benda. Epistemologi yang
diartikan sebagai filsafat yang menyelidiki sumber, syarat, proses terjadinya
ilmu pengetahuan, batas validitas dan hakikat ilmu pengetahuan. Dengan
filsafat, kita dapat menentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai demi
peningkatan ketenangan dan kesejahteraan hidup, pergaulan dan berwarga negara.
Untuk itu, bangsa Indonesia telah menemukan filsafat Pancasila.
1)
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Pemikiran tentang apa
dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh melalui akal atau panca
indra dan dari ide atau Tuhan. Berbeda dengan Pancasila, ia lahir tidak secara
mendadak, tetapi melalui proses panjang yang dimatangkan dengan perjuangan.
Pancasila digali dari bumi Indonesia yang merupakan dasar negara, pandangan
hidup bangsa, kepribadian bangsa, tujuan atau arah untuk mencapai cita-cita dan
perjanjian luhur rakyat Indonesia (Widjaya, 1985:176-177). Dalam rangka pikiran
seperti ini, maka cita-cita telah merupakan ideologi (lihat Deliar Noer, 1983:
25).
2)
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Kepribadian manusia
adalah subjek yang secara potensial dan aktif berkesadaran tahu atas eksistensi
diri, dunia, bahkan juga sadar dan tahu bila di suatu ruang dan waktu “tidak
ada” apa-apa (kecuali ruang dan waktu itu sendiri). Pancasila adalah ilmu yang
diperoleh melalui perjuangan yang sesuai dengan logika. Dengan mempunyai ilmu
moral, diharapkan tidak ada lagi kekerasan dan kesewenang-wenangan manusia
terhadap yang lainnya.
3)
Sila Persatuan Indonesia
Proses terbangunnya pengetahuan
manusia merupakan hasil dari kerja sama atau produk hubungan dengan
lingkungannya. Potensi dasar denga faktor kondisi lingkungan yang memadai akan
membentuk pengetahuan.
4)
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Manusia diciptakan
Allah SWT sebagai pemimpin di muka bumi ini untuk memakmurkan umat manusia.
Seorang pemimpin mempunyai syarat untuk memimpin dengan bijaksana. Dalam sistem
pendidikan nasional, pendidikan memang mempunyai peranan yang besar, tetapi itu
tidak menutup kemungkinan peran keluarga dan masyarakat dalam membentuk manusia
Indonesia seutuhnya. Jadi, dalam hal ini diperlukan suatu ilmu keguruan untuk
mencapai guru yang ideal, guru yang kompeten. Setiap manusia bebas mengeluarkan
pendapat dengan melalui lembaga penidikan. Setiap ada permasalahan diselesaikan
dengan jalan musyawarah, agar mendapat kata mufakat.
5)
Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia
Ilmu pengetahuan
sebagai perbendaharaan dan prestasi individu serta sebagai karya budaya umat
manusia merupakan martabat kepribadian manusia (IKIP Malang, 1983: 63). Dalam
arti luas, adil di atas dimaksudkan seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama.
Hal ini didapatkan melalui pendidikan, baik itu informal, formal dan non
formal. Dalam sistem pendidikan nasional yang intinya mempunyai tujuan yang
mengejar Iptek dan Imtaq. Di bidang sosial, dapat dilihat pada suatu badan yang
mengkoordidir dalam hal mengentaskan kemiskinan, di mana hal ini sesuai dengan
butir-butir Pancasila. Kita harus menghormati dan menghargai hasil karya orang
lain, hemat yang berarti pengeluaran sesuai dengan kebutuhan.
3.
Aksiologi
Aksiologi adalah bidang
filsafat yang menyelidiki aspek nilai (value). Nilai tidak akan timbul karena
manusia mempunyai bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Jadi,
masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai. Dikatakan mempunyai nilai, apabila
berguna, benar (logis), bermoral dan etis. Dengan demikian, dapat pula
dibedakan nilai materiil dan spiritual. Pancasila sebagai pandangan hidup dan
dasar negara memiliki nilai-nilai: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan,
Kerakyatan dan Keadilan. Nilai ideal, materiil, spiritual dan nilai positif dan
juga nilai logis, estetika, etis, sosial dan religius. Dengan demikian
Pancasila syarat akan nilai.
1)
Sila Ketuhanan yang Maha Esa
Percaya kepada Allah
merupakan hal yang paling utama dalam ajaran Islam. Di setiap kita mengucapkan
kalimah Allah, baik itu dalam shalat, menikahkan orang, dikumandangkan adzan,
para dai mula-mula menyiarkan Islam dengan menanamkan keimanan. Pendidikan,
sejak tingkat kanak-kanak sampai perguruan tinggi, diberikan pelajaran agama
dan hal ini merupakan sub-sistem pendidikan nasional.
2)
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Dalam kehidupan umat
Islam, setiap Muslim yang datang ke masjid untuk shalat berjamaah berhak
berdiri di depan dengan tidak membedakan keturunan, ras dan kedudukan. Di mata
Allah sama, kecuali ketakwaan seseorang. Inilah sebagian kecil contoh dari
nilai-nilai Pancasila yang ada dalam kehidupan umat Islam.
3)
Sila Persatuan Indonesia
Islam mengajarkan
supaya bersatu dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan, mengajarkan untuk
taat kepada pemimpin. Memang Indonesia adalah negara Pancasila, bukan negara
yang berdasarkan satu agama. Meskipun demikian demikian, warga negara kita
tidak lepas dari pembinaan dan bimbingan kehidupan beragama untuk terwujudnya
kehidupan beragama yang rukun dan damai.
4)
Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh
Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
Jauh sebelum Islam
datang, di Indonesia sudah ada sikap gotong-royong di musyawarah. Dengan
datangnya Islam, sikap ini lebih diperkuat lagi dengan datangnya al-Qur’an.
5)
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat
Indonesia
Adil berarti seimbang
antara hak dan kewajiban. Dalam segi pendidikan, adil itu seimbang antara ilmu umum dan ilmu
agama di mana ilmu agama adalah sub-sistem dari sistem pendidikan nasional.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat
Pendidikan Pancasila adalah tuntutan
formal yang fungsional dari kedudukan dan fungsi dasar negara Pancasila sebagai
sistem Kenegaraan Republik Indonesia. Kesadaran memiliki dan mewarisi sistem
kenegaraan Pancasila adalah dasar pengamalan dan pelestariannya, sedangkan
jaminan utamanya ialah subjek manusia Indonesia seutuhnya terbina melalui
sistem pendidikan nasional yang dijiwai oleh filsafat pendidikan Pancasila.
B.
Saran
Setelah
kita membahas dan menyimpulkan makalah ini, maka kami menyarankan agar
memperhatikan dan memahami semua permasalahan ini. Hendaknya kita
mengaplikasikan semua apa yang telah kita bahas itu ke dalam kehidupan
sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Sutisno, Aliet Noorhayati., dkk.
2012. Telaah Filsafat Pendidikan.
Yogyakarta:
Deepublish.
Tim
Dosen PPKn UMC. (2011). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Cirebon : UMC Press.
Rabu, 16 Mei 2012
Sabtu, 05 Mei 2012
Asas-asas Didaktik
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan aspek
terpenting untuk dimiliki oleh setiap umat manusia. Karena dengan pendidikan dapat menciptakan
perubahan sikap yang baik pada diri seseorang. Pendidikan mempunyai dua proses
utama yaitu mengajar dan diajar. Mengajar ditingkat pendidikan formal biasanya
dilakukan oleh seseorang guru. Guru dalam proses belajar mengajar mempunyai
tiga peranan yaitu sebagai pengajar, pembimbing dan administrator kelas.
Guru sebagai pengajar berperan
dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Oleh sebab itu, guru dituntut
untuk menguasai seperangkat pengetahuan
dan keteramilan dalam mengajar. Guru sebagai pembimbing diharapkan dapat
memberikan bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Peranan
ini termasuk ke dalam aspek pendidik sebab tidak hanya menyampaikan ilmu
pengetahuan, melainkan juga mendidik untuk mengalihkan nilai-nilai kehidupan.
Hal tersebut menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah sikap yang mengubah tingkah laku
peserta menjadi lebih baik.
Guru
sebagai administrator kelas berperan dalam pengelolaan proses belajar mengajar
di kelas. Guru merupakan komponen penting dalam upaya peningkatan mutu
pendidikan nasional. Guru yang berkualitas, profesional dan berpengetahuan,
tidak hanya berprofesi sebagai pengajar, namun juga mendidik, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.
Berdasarkan
Standar Nasional Kependidikan, guru harus memiliki empat kompetensi dasar yaitu
kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi
profesional. Namun, kompetensi-kompetensi yang dimiliki guru saat ini masih
terbatas, sehingga diperlukan suatu upaya untuk mengoptimalkan
kompetensi-kompetensi tersebut. Kompetensi-kompetensi yang akan dibahas dalam
makalah ini terbatas pada kompetensi-kompetensi kepribadian dan kompetensi
profesional. Kompetensi kepribadian adalah karakteristik pribadi yang harus
dimiliki guru sebagai individu yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa dan
menjadi teladan bagi peserta didik.Kompetensi profesional adalah kemampuan guru
dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan
mereka membimbing peserta didik dalam menguasai materi yang diajarkan.
Guru
yang bermutu dan profesional menjadi tuntutan masyarakat seiring dengan
tuntutan persyaratan kerja yang semakin ketat mengikuti kemajuan era
globalisasi.Untuk membentuk guru yang profesional sangat tergantung pada banyak
hal yaitu guru itu sendiri, pemerintah, masyarakat dan orang tua.Berdasarkan
kenyataan yang ada, pemerintah telah mengupayakan berbagai hal, diantaranya
sertifikasi guru. Dengan adanya program sertifikasi tersebut, kualitas mengajar
guru akan lebih baik.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
1. Apa
yang dimaksud dengan Didaktik ?
2. Asas-asas
apa saja yang harus dikuasai seorang pendidik atau pengajar ?
C. Tujuan Masalah
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk :
1. Dapat
mengetahui apa yang dimaksud dengan Didaktik
2. Dapat
mengetahui asas-asas apa saja yang harus dimiliki seorang pendidik atau
pengajar
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Didaktik
Didaktik
berasal dari bahasa Yunani “didoskein”,
yang berarti pengajaran atau “didaktos”
yang berarti pandai mengajar. Di Indonesia didaktik berarti ilmu mengajar.
Karena didaktik berarti ilmu mengajar, maka pengertian didaktik menyangkut
pengertian yang sangat luas. Dalam kaitan pembicaraan tentang didaktik,
pengertian didaktik akan difokuskan pada bagaimana perlakuan guru dalam proses
belajar mengajar tersebut. Mengajar menurut pengertian modern berarti aktivitas
guru dalam mengorganisasikan lingkungan dan mendekatkannya kepada anak didik sehingga
terjadi proses belajar (Nasution 1935 : 5).
Bertolak
dari pengertian di atas, keberhasilan mengajar tentunya harus diukur dari
bagaimana partisipasi anak dalam proses belajar mengajar dan seberapa jauh
hasil yang telah dicapainya. Dalam menjawab dua permasalahan tersebut,
ahli-ahli didaktik mengarahkan perhatiannya pada tingkah laku guru sebagai
organisator proses belajar mengajar. Maka timbulah prinsip-prinsip didaktik
atau asas-asas mengajar, yaitu kaidah atau rambu-rambu bagi guru agar lebih
berhasil dalam mengajar.
Jadi,
dalam uraian ini yang dimaksud asas-asas didaktik ialah prinsip-prinsip, kaidah
mengajar yang dilaksanakan oleh guru secara maksimal, agar lebih berhasil.
Sebagian para ahli mengatakan bahwa mengajar adalah menanamkan pengetahuan
sebanyak-banyaknya dalam diri anak didik. Dalam hal ini guru memegang peranan
utama, sedangkan siswa tinggal menerima, bersifat pasif. Pengajaran yang
berpusat kepada guru bersifat teacher centered. Ilmu pengetahuan yang diberikan
kepada siswa kebanyakan hanya diambil dari buku-buku pelajaran, tanpa dikaitkan
dengan realitas kehidupan sehari-hari siswa.Pelajaran serupa ini disebut
intelektualistis.
Sebagian
para ahli lainnya mengatakan bahwa mengajar merupakan usaha penyampaian
kebudayaan kepada anak didik. Definisi kedua ini hampir sama maksudnya dengan
definisi pertama. Tentu saja yang diinginkan adalah agar anak mengenal
kebudayaan bangsa, kebudayaan suku dan marganya. Tetapi lebih dari itu
diharapkan agar anak didik tidak hanya menguasai kebudayaan yang ada, tetapi
juga ikut memperkaya kebudayaan tersebut dengan menciptakan kebudayaan baru
menurut zaman yang senantiasa mengalami perubahan.Sebagian para ahli yang lain
lagi mengatakan bahwa mengajar diartikan menata berbagai kondisi belajar secara
pantas. Kondisi yang ditata itu adalah kondisi eksternal anak didik. Termasuk
di dalam kondisi eksternal ini adalah komunikasi verbal guru dengan anak didik.
Dengan
demikian, sesungguhnya kunci proses belajar-mengajar itu terletak pada penataan
dan perancangan yang memungkinkan anak didik dapat berinteraktif. Dengan berinteraktif maksudnya adalah terjadinya
hubungan timbal- balik personal anak dengan lingkungan. Anak didik dapat berinteraktif dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Tiap usaha mengajar sebenarnya ingin menumbuhkan atau menyempurnakan
pola laku tertentu dalam diri peserta didik. Yang dimaksud dengan pola laku
adalah kerangka dasar dari sejumlah kegiatan yang lazim dilaksanakan manusia
untuk bertahan hidup dan untuk memperbaiki mutu hidupnya dalam situasi nyata.
Kegiatan itu bisa berupa kegiatan rohani, misalnya mengamati, menganalisis, dan
menilai keadaan dengan daya nalar. Bisa juga berupa kegiatan jasmani.yang
dilakukan dengan tenaga dan keterampilan fisik.
Umumnya
rnanusia bertindak secara manusiawi apabila kedua jenis kegiatan tersebut
dibuat secara terjalin dan terpadu. Di samping menumbuhkan dan menyempumakan
pola laku, pengajaran juga menumbuhkan kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan
sebagai keterarahan, kesiapsiagaan di dalam diri manusia untuk melakukan
kegiatan yang sama atau serupa atas cara yang lebih mudah, tanpa memeras atau
memboroskan tenaga. Kebiasaan akan timbul justru apabila kegiatan manusia, baik
rohani maupun jasmani dilakukan berulang kali dengan sadar dan penuh
perhitungan.
B.
Prinsip-prinsip
Mengajar
Prinsip
mengajar adalah suatu aturan yang berlaku bagi seorang guru dalam menyampaikan
materi pelajaran. Prinsip-prinsip tersebut disebut dengan asas-asas didaktik.
Dengan demikian prinsip-prinsip tersebut harus diketahui dan dipahami serta
dapat diterapkan oleh guru atau calon guru agar dapat mengajar dengan baik dan
berhasil sesuai dengan tujuan.
Adapun prinsip-prinsip mengajar antara lain :
1.
Asas Motivasi
Motivasi
berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan daya penggerak yang ada dalam diri seseorang
untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan.
Ada tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi ini
mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling dan rangsangan karena adanya
tujuan. Motivasi sebagai motor penggerak segala aktivitas, sehingga jika
motornya tidak ada, maka aktivitas tidak akan terjadi. Jika motornya lemah,
aktivitas yang terjadi pun akan lemah pula.
Motivasi
belajar erat kaitannya dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang
sedang belajar itu sendiri. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa
tujuan yang hendak dicapai berguna atau bermanfaat bagi dirinya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat.
Motivasi belajar ini ada yang timbul dari dalam diri siswa sendiri (motivasi
intrinsik). Motivasi intrinsik disebut juga motivasi murni, karena muncul dari
diri siswa sendiri. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin harus berusaha untuk
memunculkan motivasi intrinsik di kalangan siswa pada saat mereka belajar,
umpamanya dengan caramenjelaskan
kaitan tujuan pembelajaran dengan kepentingan atau kebutuhansiswa.
Sedangkan untuk memunculkan motivasi ekstrinsikdapat dilakukan antara lain dengan cara memberi pujian, hadiah,
menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, memberi nasihat, atau
upaya-upaya lain yang dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar.
Motivasi
selalu berkait dengan soal kebutuhan. Ada beberapa jenis kebutuhan misalnya : kebutuhan untuk
menyenangkan orang lain, kebutuhan untuk mencapai hasil, kebutuhan untuk
mengatasi kesulitan. Sehubungan dengan itu, timbullah beberapa motivasi yang
berpangkal pada kebutuhan, yaitu:
a. Kebutuhan fisiologis seperti lapar, haus,
kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya
b. Kebutuhan akan keamanan yakni rasa aman,
bebas dari rasa takut dan kecemasan
c. Kebutuhan akan cinta dan kasih sayang yakni
rasa diterima dalam suatu masyarakat atau golongan (keluarga, sekolah, dan
masyarakat)
d. Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri
yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan,
sosial, pembentukan pribadi
Setiap motivasi bertalian erat dengan suatu
peranan. Adapun peranan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Mendorong manusia untuk berbuat. Menjadi
sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energy
b. Menentukan arah perbuatan yaitu ke arah
tujuan yang hendak dicapai
c. Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai
tujuan itu, dengan menyampingkan perbuatan-perbutan yang tak bermanfaat bagi
tujuan itu. Seorang yang betul-betul bertekad menang dalam pertan dingan, tak
akan menghabiskan waktunya bermain kartu, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Dalam bahasa sehari-hari motivasi dinyatakan
dengan hasrat, keinginan, maksud, tekad, kemauan, dorongan, kebutuhan,
kehendak, cita-cita, keharusan, kesediaan, dan sebagainya.
2. Asas
Aktivitas
Pada
waktu mengajar guru harus memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk
mengambil bagian yang aktif baik rohani maupun jasmani terhadap pengajaran yang
diberikan, secara perorangan maupun kelompok.
Yang
dimaksud keaktipan jasmani adalah berbagai kegiatan yang dilakukan murid
seperti kesibukan melakukan penelitian, percobaan, membuat konstruksi model,
bercocok tanam dan sebagainya.
Sedangkan
keaktifan rohani ialah bekerjanya unsur-unsur kejiwaan murid dalam pengajaran
yang tampak jelas pada ketekunan mengikuti pelajaran, mengamati secara cermat,
mengingat, berfikir untuk memecahkan persoalan dan mengambil kesimpulan.
Terdorong oleh perasaan dan kemauan yang kuat unsur-unsur kejiwaan itu akan
berfungsi dengan baik untuk mendapatkan hasil pelajaransebanyak mungkin.
Menurut
Piaget (psycholog kelahiran Swiss), seseorang anak berfikir sepanjang dia
berbuat. Tanpa perbuatan anak tak berfikir, agar anak berfiir sendiri, harus
diberi kesempatan untuk berbuat sendiri.
Tanpa
aktivitas belajar, pengajaran tidak akan member hasil yang baik. Usaha-usaha
guru membangkitkan keaktifan jasmani murid, antara lain :
a. Dengan
menyelenggarakan berbagai bentuk pekerjaan yang bersifat keterampilan
perbengkelan, pertukangan, pertanian, perikanan, kerajinan, penelitian di
laboratorium dan sebagainya.
b. Mengadakan
pecan olahraga dan seni, pameran, karya wisata dan sebagainya
c. Membimbing
serta mendorong anak-anak dalam berdiskusi
d. Memberikan
tugas kepada anak-anak untuk memecahkan suatu masalah
e.
Mengadakan berbagai penelitian dan percobaan,
menganalisis data, membuat kesimpulan, menyusun laporan dan sebagainya
3.
Asas
Peragaan
Penyakit yang paling berkecamuk di sekolah
adalah verbalisme. Bahaya verbalisme
terdapat dalam tiap situasi belajar, yakni apabila anak-anak diberi kata-kata
tanpa memahami artinya.
Penyakit verbalisme biasanya tidak terdapat dalam hal-hal yang dipelajari
anak-anak sebelum mereka bersekolah. Oleh sebab itu, pembendaharaan
bahasanya diperolehnya dengan pengalaman langsung, dengan melihat, mendengar,
mengecap, meraba, serta menggunakan alat indra lainnya. Hasil pelajaran serupa
itu dapat dianggap permanen dan tak akan dilupakannya. Hal ini juga disebabkan
karena kata-kata itu sederhana dan selalu atau sering digunakan secara fungsional
dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata itu benar-benar mereka kenal, karena
mereka mempelajarinya melalui pengalaman yang konkrit.
Akan tetapi segera anak itu masuk ke sekolah
dia menerima cara belajar
yang baru yakni dengan perantara kata-kata tertulis. Ia disuruh menghafal kata-kata yang tidak
dipahaminya benar, karena diperolehnya tidak melalui pengalaman yang konkrit
melainkan berdasarkan bacaan. Karena ia pandai membaca ia dapat pula
mengucapkan sejumlah besar kata-kata yang tidak dipahami artinya. Jelas kiranya
bahwa belajar dengan jalan menghafal bukan saja memudahkan timbulnya
verbalisme, tetapi juga kurang menarik, kurang menyenangkan dan segera
membosankan.
Suatu kekurangan dalam pendidikan adalah jika kita mengajarkan kata-kata yang
tidak mempunyai isi dan arti yang jelas. Kekurangannya nyata apabila anak harus
mempelajari buku dengan membacanya. Sebenarnya membaca itu bukanlah mengambil
makna dari tulisan itu. Dalam atau dangkalnya makna itu bergantung pada
pengalaman atau latar belakang si pembaca.
Dalam peragaan ada maksud dan tujuan yang
hendak dicapai yakni, memberikan variasi dalam cara-cara kita mengajar,
memberikan lebih banyak realitas dalam mengajar itu, sehingga lebih berwujud,
lebih terarah untuk mencapai tujuan pelajaran.
Alat-alat
peraga sebagai alat pembantu dalam mengajar agar efektif, dalam garis besarnya
memiliki faedah atau nilai berikut :
a. Menambah
kegiatan belajar murid
b. Menghemat
waktu belajar (ekonomis)
c. Menyebabkan
agar hasil belajar lebih permanen atau mantap
d. Membantu
anak-anak yang ketinggalan dalam pelajarannya
e. Memberikan
alas an yang wajar untuk belajar karena membangkitkan minat perhatian
(motivasi) dan aktivitas pada murid
f. Memberikan
pemahaman yang lebih tepat dan jelas
Jenis
kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan asas peragaan dapat diwujudkan
dalam berbagai kegiatan yaitu :
a. Pengalaman
lansung
Anak diminta untuk
mengalami, berbuat sendiri, dan mengelola serta merenungkan apa yang dikerjakan
b. Pengalaman
yang diatur
Jika realitas terlalu
besar atau kecil atau tidak ada ditempat maka realitas itu dapat diperagakan
dengan model
c. Dramatisasi
Misalnya : Sandiwara,
permainan peran, pantonim, dan sandiwara boneka
d. Demontrasi
Biasanya dilakukan
dengan menggunakan alat-alat pembantu seperti papan tulis, papan plannel, OHP,
dan lain-lain. Banyak topik yang diangkat dalam pembelajaran di sekolah dan
dapat diajarkan dengan peragaan demontrasi.
e. Karyawisata
Kegiatan ini sebenarnya
sangat baik untuk menjadikan proses
pembelajaran yang disenangi siswa. Kegiatan yang diprogramkan dengan melibatkan
penerapan konsep budaya dalam kesenian, mengukur tinggi secara langsung,
mengukur lebar sungai, mendata kecenderungan kejadian dan realitas yang ada
pada lingkungan merupakan kegitan yang sangat menarik dan bermakna pada siswa.
f. Pameran
Berbagai bentuk pameran
ternyata dapat menyedot anak dan berusaha untuk mencobanya
g. Televisi
Program pembelajaran
yang disiarkan melalui televisi juga merupakan alternativ pembelajaran secara
umum
4.
Asas Individualitas
Tak ada dua anak yang sama disebabkan oleh
perbedaan pembawaan lingkungan. Salah satu perbedaan ialah taraf intelegensi anak-anak, yang dinyatakan
dengan IQ. Faktor lain yang turut menyebabkan perbedaan adalah keadaan rumah,
lingkungan sekitar rumah, pendidikan, kesehatan anak, makanan, usia, keadaan
sosial ekonomi orang tua, dan lain-lain.
Pada umumnya prinsip individualitas ini
masih kurang mendapat perhatian di sekolah kita. Cara mengajar terutama
brbentuk ceramah yang menyamaratakan semua murid. Kelas yang besar dan
kekurangan-kekurangan alat-alat juga merupakan halangan untuk mewujudkan
Undang-undang Dasar kita yang menyatakan bahwa setiap anak berhak berkembang
sesuai dengan bakat masing-masing.
5.
Lingkungan
Sekolah tak lepas dari masyarakat. Sekolah
didirikan masyarakat untuk mendidik anak menjadi warga negara yang berguna
dalam masyarakat. Tetapi disamping itu masyarakat atau lingkungan dapat pula
merupakan laboratorium dan sumber yang penuh kemungkinan untuk memperkaya
pengajaran. Itu sebab itu,
setiap guru harus mengenal masyarakat serta lingkungannya dan menggunakannya
secara fungsional dalam pelajarannya.
Ada bermacam-macam cara untuk menggunakan
sumber-sumber dalam lingkungan untuk kepentingan pelajaran. Pada umumnya kita
dapat membaginya dalam dua golongan :
a. Membawa
anak ke dalam lingkungan dan masyarakat untuk keperluan pelajaran. Contohnya
adalah karyawisata. Karyawisata mempunyai nilai-nilai sebagai berikut :
1. Memberikan
pengalaman-pengalaman langsung. Anak belajar dengan menggunakan segala macam
alat indra
2. Memberi
motivasi kepada murid untuk menyelidiki sebab musabab sesuatu
b. Membawa
sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas untuk kepentingan pelajaran.
Contohnya adalah benda-benda seperti pameran atau koleksi.
Selama karyawisata dan survey anak-anak mendapat kesempatan untuk
mengumpulkan berbagai-bagai benda. Anak dapat mengumpulkan hasil industri dan
pertanian dari lingkungan sekolah itu seperti obat-obatan, kue, macam-macam
tekstil dan sebagainya. Mereka dapat pula mengumpulkan benda-benda dan binatang
dari alam sekitarnya seperti jenis-jenis batu, pasir, tanah, bunga, serangga, dan lain sebagainya. Dapat
pula mereka meminta agar seorang murid memperlihatkan koleksi batu-batu,
perangko, boneka, dan lain sebagainya. Benda-benda itu hendaknya dipamerkan di
sekolah
6.
Kerjasama (Kooperasi)
Manusia adalah
makhluk individu sekaligus makhluk sosial . Pendidikan mengantarkan siswa agar
menjadi manusia seutuhnya maupun menjadi makhluk yang secara individu
bertanggung jawab pada didrinya, keluarga, dan bangsanya dengan memiliki
pengetahuan, ketrampilan, moral ketaqwaan dan
mempunyai komitmen pada bangsa dan negara, sekaligus jadi makluk
sosial yang demokratis, toleran dan dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
Pada pembelajaran yang menggunakan kerja kelompok perlu menerapkan
prisip-prinsip sebagai berikut :
a.
Siswa harus mempunyai
kejelasan tujuan
b.
Setiap anggota harus mempunyai
konstribusi untuk menyelesaikan tugas
c.
Anggota harus bertanggung
jawab pada kelompok
d.
Pemecahan masalah harus
demokratis
e.
Pimpinan kelompok harus
menciptakan suasana yang dinamis
f.
Setiap anggota harus
bertanggung jawab pada kelompok
g.
Perlu digunakan penilaian
terhadap kemajuan kelompok
h.
Mampu menimbulkan perubahan
yang konstruktif
i.
Setiap anggota merasa puas
dan aman dalam belajar
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Didaktik berasal dari bahasa Yunani “didoskein”, yang berarti pengajaran
atau “didaktos” yang berarti pandai
mengajar. Di Indonesia didaktik berarti ilmu mengajar. Karena didaktik berarti
ilmu mengajar, maka pengertian didaktik menyangkut pengertian yang sangat luas.
Dengan demikian, sesungguhnya kunci proses belajar-mengajar itu terletak pada
penataan dan perancangan yang memungkinkan anak didik dapat berinteraktif.
Dengan berinteraktif maksudnya adalah
terjadinya hubungan timbal- balik personal anak dengan lingkungan. Anak didik dapat berinteraktif dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Tiap usaha mengajar sebenarnya ingin menumbuhkan atau
menyempurnakan pola laku tertentu dalam diri peserta didik. Yang dimaksud
dengan pola laku adalah kerangka dasar dari sejumlah kegiatan yang lazim
dilaksanakan manusia untuk bertahan hidup dan untuk memperbaiki mutu hidupnya
dalam situasi nyata. Kegiatan itu bisa berupa kegiatan rohani, misalnya
mengamati, menganalisis, dan menilai keadaan dengan daya nalar. Bisa juga
berupa kegiatan jasmani.yang dilakukan dengan tenaga dan keterampilan fisik. Di
samping menumbuhkan dan menyempumakan pola laku, pengajaran juga menumbuhkan
kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan sebagai keterarahan, kesiapsiagaan di
dalam diri manusia untuk melakukan kegiatan yang sama atau serupa atas cara
yang lebih mudah, tanpa memeras atau memboroskan tenaga. Kebiasaan akan timbul
justru apabila kegiatan manusia, baik rohani maupun jasmani dilakukan berulang
kali dengan sadar dan penuh perhitungan.
Prinsip
mengajar adalah suatu aturan yang berlaku bagi seorang guru dalam menyampaikan
materi pelajaran. Prinsip-prinsip tersebut disebut dengan asas-asas didaktik.
Dengan demikian prinsip-prinsip tersebut harus diketahui dan dipahami serta
dapat diterapkan oleh guru atau calon guru agar dapat mengajar dengan baik dan
berhasil sesuai dengan tujuan.
Motivasi belajar erat kaitannya
dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar itu
sendiri. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak
dicapai berguna atau bermanfaat
bagi dirinya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar
ini ada yang timbul dari dalam diri siswa sendiri (motivasi intrinsik).
Motivasi intrinsik disebut juga motivasi murni, karena muncul dari diri siswa
sendiri. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin harus berusaha untuk memunculkan
motivasi intrinsik di kalangan siswa
Pada waktu mengajar guru harus memberikan kesempatan
kepada murid-murid untuk mengambil bagian yang aktif baik rohani maupun jasmani
terhadap pengajaran yang diberikan, secara perorangan maupun kelompok. Yang
dimaksud keaktipan jasmani adalah berbagai kegiatan yang dilakukan murid
seperti kesibukan melakukan penelitian, percobaan, membuat konstruksi model,
bercocok tanam dan sebagainya.
Dalam
peragaan ada maksud dan tujuan yang hendak dicapai yakni, memberikan variasi
dalam cara-cara kita mengajar, memberikan lebih banyak realitas dalam mengajar
itu, sehingga lebih berwujud, lebih terarah untuk mencapai tujuan pelajaran.
Tak ada dua anak yang sama disebabkan oleh perbedaan
pembawaan lingkungan. Salah satu perbedaan ialah taraf intelegensi anak-anak, yang dinyatakan dengan IQ. Faktor lain yang
turut menyebabkan perbedaan adalah keadaan rumah, lingkungan sekitar rumah,
pendidikan, kesehatan anak, makanan, usia, keadaan sosial ekonomi orang tua,
dan lain-lain. Pada umumnya prinsip individualitas ini masih kurang mendapat perhatian di
sekolah kita.
Cara
mengajar terutama brbentuk ceramah yang menyamaratakan semua murid. Kelas yang
besar dan kekurangan-kekurangan alat-alat juga merupakan halangan untuk
mewujudkan Undang-undang Dasar kita yang menyatakan bahwa setiap anak berhak
berkembang sesuai dengan bakat masing-masing.
Sekolah tak lepas dari masyarakat. Sekolah didirikan
masyarakat untuk mendidik anak menjadi warga negara yang berguna dalam
masyarakat. Tetapi disamping itu masyarakat atau lingkungan dapat pula
merupakan laboratorium dan sumber yang penuh kemungkinan untuk memperkaya
pengajaran. Itu sebab itu, setiap guru harus mengenal masyarakat serta
lingkungannya dan menggunakannya secara fungsional dalam pelajarannya.
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial . Pendidikan mengantarkan siswa agar menjadi manusia seutuhnya maupun menjadi makhluk
yang secara individu bertanggung jawab pada didrinya, keluarga, dan bangsanya dengan memiliki pengetahuan, ketrampilan, moral ketaqwaan dan mempunyai komitmen pada bangsa dan negara, sekaligus jadi makluk sosial yang demokratis, toleran dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
B.
Saran
Menguasai asas-asas didaktik
belum merupakan suatu jaminan bahwa
seseorang dengan sendirinya akan menjadi guru yang baik. Mengajar itu sangat
kompleks dan dipengaruhi oleh macam-macam faktor lain pribadi guru sendiri,
suasana kelas, hubungan antar-manusia, keadaan sosial ekonomi negara,
organisasi kurikulum dan sebagainya. Dengan didaktik atau ilmu mengajar akan
memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran
sehingga dikuasai dan dimiliki oleh anak-anak. Prinsip yang dikemukan adalah
motivasi, aktivitas, peragaan, individualitas, lingkungan, dan kerjasama. Akan
tetapi seseorang pasti tidak akan menjadi guru yang baik kalau guru tersebut
mengabaikan asas-asas didaktik. Oleh sebab itu, didaktik sangat perlu
dikembangkan dan dipelajari oleh kita sebagai calon pendidik.
Kita
sebagai calon pendidik harus tahu apa itu didaktik. Apa saja prinsip-prinsip
didaktik. Karena dengan belajar didaktik kita dapat memahami setiap karakter
peserta didik. Dengan memahami karakter peserta didik , kita bisa tahu beberapa
karakter dan cara untuk mengatasi sifat dan sikap siswa. Sebagai calon pendidik
kita juga diberikan pengarahan. Bagaimana cara mengajar yang baik, serta apa
saja yang harus kita lakukan dan kita terapkan dalam suasana belajar-mengajar. Supaya
kondisi kelas tetap nyaman. Ada banyak alternativ untuk selalu menciptakan
suasana yang nyaman. Yaitu dari diri kita dulu, sebagai pendidik kita tidak
boleh memberikan perhatian yang lebih pada satu siswa saja. Istilahnya pilih
kasih, tapi kita sebagai pendidik harus memberikan perhatian secara menyeluruh
atau merata. Memberikan beberapa penguatan. Penguatan di bagi menjadi dua,
yaitu : penguatan positif diantaranya memberikan reword, pujian, tepuk tangan
dan sebagainya. Sedangkan penguatan negativ diantaranya memberikan hukuman
sesuai dengan kesalahan peserta didik. Tapi kita sebagai calon pendidik
hendaklah menjauhi kekerasan dalam kegiatan belajar mengajar. Karena akan
timbul suatu masalah dalam lingkungan sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, S. (2010). Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta :
Bumi Aksara.
LAMPIRAN
1.
Amalia (Kelompok 6)
Bagaimana
caranya menumbuhkan sikap atau kebiasaan baik pada peserta didik. Agar peserta
didik tersebut bisa menerimanya ?
Jawab
Penyaji
Banyak
cara yang dilakukan oleh pendidik untuk menumbuhkan kebiasaan baik pada peserta
didik salah satu contohnya yaitu dengan mengenal karakter setiap peserta didik
tersebut, kemudian mendekatinya bahkan bila perlu kita jadikan peserta didik
itu sebagai teman kita sendiri. Agar peserta didik tersebut merasa lebih nyaman
dengan kita.
Rizka Rahayu
Iya,
benar. Apa yang dikatakan penyaji. Pertama-tama kita harus mengenal karakter
peserta didik terlebih dahulu. Kemudian kita memberikan arahan, bimbingan yang
sifatnya mendidik. Ada juga cara lain yang bisa dilakukan oleh pendidik yaitu
dengan menerapkan slogan-slogan yang dapat menumbuhkan suatu kebiasaan baik
untuk peserta didik dikemudian hari.
2.
Puspa Pandini (Kelompok 7)
Bagaimana
caranya menciptakan pendidikan yang baik dalam lingkungan keluarga ?
Jawab
Penyaji
Caranya
dengan melakukan komunikasi yang baik, menanamkan ilmu-ilmu agama, dan juga
memberikan contoh yang baik serta kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu
otoriter kepada anak-anak kita.
Tsamrotul Maisyah
Dengan
cara memberikan fasilitas, memberikan pendidikan moral, memberikan perhatian,
pengawasan dan bimbingan kepada anak.
3.
Fenti Rosdiana (Kelompok 8)
Bagaimana
cara memotivasi anak didik agar mempunyai semangat untuk belajar ?
Jawab
Penyaji
Cara
memotivasi anak yaitu dengan cara memberikan penguatan positif dan penguatan
negatif. Penguatan positif yaitu dengan cara memberikan reword, pujian, hadiah,
dll. Sedangkan penguatan negatif yaitu dengan memberikan hukuman yang bersifat
mendidik.
Nuraeni
Dari diri
kita memberikan suasana belajar yang nyaman agar peserta didik merasa nyaman
dan senang terhadap pelajaran tersebut.
Puspita Ratih
Memberikan
situasi belajar yang menyenangkan seperti dengan games, kuis,dll.
Tsamrotul Maisyah
Cara
mengajar yang menarik, memberikan selingan yang sehat, menggunakan alat-alat
peraga, kurangi sejauh mungkin yang mengganggu konsentrasi-kosentrasi anak
didik.
4.
Nunung Nurhasanah (Kelompok 2)
Mengapa
kita sebagai pendidik tidak boleh memanjakan anak didik kita ?
Jawab
Penyaji
Karena
apabila kita terlalu memanjakan anak didik kita akan timbul karakter pada anak
didik yang tidak mandiri. Kita sebagai calon pendidik harus menanamkan
nilai-nilai kemandirian, membantu, menuntun dan membimbingnya bukan
memanjakannya.
Nuraeni
Kita harus
menyayanginya tapi tidak memanjakannya. Jadi tahu pastinya.
Syamsul Ma’arif
Diberikan
kasih sayang, menerapkan kebiasaan mandiri. Jadi kita harus professional dan
kondisional.
Langganan:
Postingan (Atom)
























